Minggu, September 19, 2021

Bab Mandi Wajib dan Adab-adabnya

Terlebih dahulu mencuci kedua telapak tangan lalu membasuh kemaluan dan telapak tangan digosokkan ke tanah atau kedinding, kemudian berkumur dan beristinsyaq memasukkan air ke dalam hidung, lalu mengeluarkannya. Mencuci muka dan kedua hasta tangan, kemudian mengalirkan air di atas kepala sebanyak 3 kali, kemudian mengalirkan air ke seluruh tubuh, lalu mencuci kedua kaki. (Riwayat : Bukhari, Muslim, Tirmidzi).

Wanita berambut panjang boleh hanya dengan menyiramkan air tiga kali ke atas rambutnya ketika mandi wajib. (Riwayat : Muslim).

Sunnah mendahulukan badan sebelah kanan ketika menyiram air ke badan. (Riwayat : Nasa’i).

Boleh mandi wajib atau junub dengan berendam di dalam air asalkan semua anggota badan terkena air. (Imam Syafi’i).

Dalam mandi wajib air harus mengenai semua pori-pori badan kemudian meratakannya sekaligus membersihkannya. (Riwayat : Tirmidzi).

Diwajibkan mandi jika ; (1). Dua kemaluan laki-laki dan wanita bertemu. (2). Bermimpi sampai keluar mani, sedangkan jika bermimpi tidak keluar mani, maka tidak diwajibkan mandi. (3). Keluar mani secara sengaja atau tidak. (4). Setelah berhenti dari keluar darah haid. (5). Setelah selesai dari nifas. (Riwayat : Tirmidzi).

Boleh tidur sebelum mandi dalam keadaan junub tetapi sebaiknya berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur. (Riwayat : Tirmidzi).

Cukup sekali mandi setelah menggauli beberapa istri atau pun beberapa kali akan tetapi dianjurkan berwudhu lebih dahulu sebelum melakukan yang kedua kalinya. (Riwayat : Tirmidzi).

Boleh langsung mandi setelah berhubungan atau tidak langsung mandi atau menangguhkannya hingga bangun dari tidur. (Riwayat : Nasa’i).

Suami istri boleh mandi bersama dari satu bak air. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah melakukannya dengan istri beliau. (Riwayat : Nasa’i).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menolak memakai handuk setelah mandi. (Riwayat : Nasa’i).

Usahakan menutup diri ketika mandi, sehingga aurat tertutup. (Riwayat : Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i). Sebaiknya memakai kain basahan yang dikhususkan untuk mandi.

Jangan mandi junub dengan masuk ke dalam air yang diam yang nantinya air tersebut digunakan lagi oleh orang lain untuk mandi atau mencuci. (Riwayat : Muslim).

Sumber : Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap. Karya : Ust. H A Abdurrahman Ahmad. Pustaka Nabawi – Cirebon, Desember 2010

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: