Minggu, September 19, 2021

Bulan Muharam, Semangat Hijrah

Dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT yaitu dengan menjalankan perintah Allah SWT dengan ikhlas, khusyu, lagi penuh tawakkal juga menjauhi larangan Allah SWT dengan semangat berhijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan yng teruji dan diridloi Allah. SWT. Sholawat dan salam mudah-mudahan tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Saat ini kita memasuki bulan Muharram tahun 1443 Hijriyah. Itu berarti kita memasuki tiga dimensi yaitu dimensi usia bertambah, kedua semangat jihad berhijrah dan yang ketiga dimensi masa yang mulia karena Muharram termasuk 4 bulan yang mulia.

Sebagimana dijelaskan dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 36 bahwa:  “Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas dan di antara bulan tersebut terdapat empat bulan yang suci”.

Empat bulan mulia itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebgaimana termaktub dalam Hadits Bukhori-Muslim yaitu dalam hal bulan Haram yang dijelaskan Nabi Muhammad adalah Dzulqa’dah,Dzulhijjah, Muharram dan Rajab”.

Secara bahasa, kata hijrah berasal dari bahasa arab hijratan berbentuk isim mashdar dari kata hajara-yahjuru-hajran yang artinya berupa tarakahu atau meninggalkan serta Qata’ahu yang artinya memustuskan. 

Sedangkan menurut istilah hijrah dalam perspektif historis mengandung dua makna yakni pertama, hijrah berarti berrpindah dari daerah yang menakutkan ke daerah yang aman.

Kedua, hijrah berarti berpindah dari daerah kekufuran menuju daerah mukmin.
Ayat tentang hijrah tersebar dalam 17 surat dan 27 ayat serta disebutkan secara keseluruhan sebanyak 32 kali dengan berbagai derivasinya.

Di antaranya yang dominan memotivasi sesorang untuk berhijrah adalah surat  Al-Baqa-rah: 218 : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Dalam kitab Fath al-Bari, hijrah dapat dibedakan menjadi dua macam yakni hijrah secara lahir dan hijrah secara batin. Hijrah secara batin adalah hijrah berarti meninggalkan sesuatu yang mendorong nafsu amarah dalam melaksanakan kejahatan dan mengikuti jejak setan.
Sedangkan secara lahir, hijrah berarti menghindar dari berbagai fitnah dengan memperta-hankan agama.

Maka hijrah di jalan Allah merupakan proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam proses tersebut, Istiqamah menjadi fase paling penting yang perlu dijaga ketika seseorang telah bertekad untuk berhijrah.

Hijrah tidak hanya dimaknai dalam pengertian sempit perubahan penampilan fisik semata.  Sebab, hijrah yang dilakukan hanya sebatas perubahan penampilan tanpa dibarengi dengan penataan hati, maka yang terjadi adalah kesombongan religiusitas, merasa paling benar dan menganggap ‘rendah’ orang-orang yang belum mendapat hidayah.

Seperti fenomena hijrah dewasa ini yang ramai di media sosial adalah fenomena hijrah Di sisi lain, gairah hijrah menjadi daya kekuatan untuk taat mengamalkan kewajiban dan sunnah, di sisi lain tidak sedikit fenomena hijrah juga ditampakkan dalam atribut kesalehan lahiriah, semisal dari tidak berjilbab sama sekali menjadi berjilbab lebar-lebar, tidak berjenggot hingga memanjangkannya lebat-lebat, dan semisalnya.

Maka batasan dan makna hijrah harus direoriantasi menuju hijrah secara substansial. Hijrah dengan penampilan adalah hal terendah dalam Islam, yang utama adalah Istikamah dan menyebar kedamaian. 

Yang terpenting dari memaknai gerakan dan fenomena ‘hijrah’ adalah menyelami substansinya. Jangan sampai kita terjebak pada gerakan euphoria semata, karena banyak orang yang hijrah, lantas ikut-ikutan hijrah tanpa memahami makna sebenarnya.

Tradisi Hijrah dalam catatan Sejarah Islam dilakukan oleh para nabi, ulama, dan orang-orang saleh. Nabi Nuh as diutus dan berdakwah ditengah-tengah kaumnya selama 950 tahun, akan tetapi ironisnya jumlah kaum pengikut nabi Nuh tidak bertambah, sedangkan jumlah kaum kafir justru bertambah dan menentangnya.

Sampailah saatnya Allah swt memerintahkan kepada Nabi Nuh as, untuk membuat bahtera. Lalu segeralah Nabi Nuh as, membuatnya. Setelah menyelesaikan perakitan (pembuatan) kapalnya Nabi Nuh as, menerima wahyu hijrah menyelamatkan diri bersama pengikutnya menaiki bahtera.

Dijelaskan dalam QS Hud: 40. Nabi Ibrahim as, hijrah ke Syam setelah kaumnya menginginkan untuk membakar Nabi Ibrahim as, dan mengharapkan kebinasaannya. Nabi Ibrahim juga berhijrah ke Mesir ketika terjadi paceklik berkepanjangan. Selain itu Nabi Ibrahim as, bersama anaknya Ismail dan Istrinya Hajar ke Mekah untuk membangun Baitullah.

Nabi Musa as, setelah sekian lama tinggal di Mesir untuk menyeru kepada Fir aun dan para pengikutnya agar beriman kepada Allah swt. Akan tetapi mereka menolak seruan itu bahkan selalu mendapatkan tekanan, siksaan, intimindasi dan lain sebagainya, saat itu Allah swt, memerintahkan Musa as, untuk meninggalkan Negeri Mesir beserta Bani Israil menuju Madyan.

Imam Syafii hijrah ke Mekah untuk menuntut ilmu kepada para ulama alhi Fiqh serta ahli Hadits disana sampai Ia memiliki kedudukan yang tinggi. Jika dicermati hijrah yang tercover dalam catatan sejarah orientasi secara seubstansial adalah untuk menjaga keimanan, menjauhi larangan Allah, menuntut ilmu dan menata kehidupan sosial yang lebih berahlak dan beradab.

Jika oreientasi substansial tersebut disertai niat dan tujuan yang murni, sadar dan ikhlas, maka  maka Allah menjanjikan 4 balasan bagi orang-orang yang berhijrah yaitu;

  • Diberi keluasan Rezeki Sebagaimana dijelaskan dalam surat Annisa:100
    “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
  • Dihapuskan Dosa-Dosanya Di antara nikmat yang Allah janjikan kepada kaum Muhajirin adalah dihapuskan kesalahan-kesalahan dan di ampuni dosa-dosa mereka. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 195
  • Ditinggikan Kedudukan dan Derajatnya di Sisi Allah Allah berjanji bagi orang-orang yang mendapatkan keutamaan Iman, hijrah, serta jihad dijalan-Nya dengan harta dan jiwa mereka, mereka akan mendapakan derjat yang mulia disisi Allah swt,.
    Allah berfirman dalam surat Attaubah: 20 “Oang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”
  • Mendapatkan Jaminan Surga Diantara nikmat yang Allah SWT, janjikan kepada Muhajirin adalah akan diberikannya surga yang akan kekal didalamnya.
    Allah berfirman, “Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal”.
    Demikianlah khutbah ini. Mudah-mudahan khutbah ini dapat kita hikmati bersama dan semoga kita tercatat sebagai insan yang senntiasa menjaga hijrah dengan istiqomah dan menyebar kedamaian.

Amin ya rabbal alamin.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: