Tanpa terasa kita sudah dipenghujung Tahun 1441 Hijriah, selama lebih kurang 360 hari lebih telah kita lalui, dan lebih kurang 8.780 jam lebih telah kita lewati.

Mungkin tidak banyak yang akan menyambut pergantian tahun hijriah ini, tidak sebagai-mana pergantian tahun masehi. Karena mungkin pergantian tahun hijriah tidak begitu populer diantara kita atau memang sebagian orang Islam sendiri tidak perduli, bahkan tidak tahu dan lewat begitu saja.

Berbeda dengan pergantian tahun masehi, begitu populer, bahkan jadi momen tertentu dalam rancangan kehidupan. Ini karena kita memang mempedomani kalender masehi dalam berbagai kegiatan atau pekerjaan kita sehari-hari. Otomatis kita semua akan tahu, ingat tentang pergantian tahun masehi.

Peran media juga turut mempengaruhi popularitas pergantian tahun. Sehingga seolah jadi bumbu pemicu untuk semakin menyemarak-kan pergantian tahun terutama pergantian tahun masehi. Kita meramaikan dengan bermacam-macam kegiatan, ada dengan karnaval, mobil hias, perlombaan-perlombaan lainnya dilakukan untuk menyambut pergantian tahun ini.

Sangat berbeda dengan pergantian tahun hijriah yang seolah minim atau sepi dari publikasi media. Disinilah pentingnya jurnalis Islam agar mempunyai kesadaran dan sumbangsih terhadap siar Islam.

Sehingga Islam tidak terasa asing di telinga umatnya sendiri. Dapat dibandingkan sendiri seberapa antusias umat Islam dalam menyambut tahun baru hijriah dan tahun baru masehi.

Semua kita mestinya sibuk untuk menyam-but pergantian tahun baru Islam ini, mulai dari tingkat Raudhatul Athfal (RA), SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK/MAN semuanya dilibatkan untuk menyemarakkan pergantian tahun ini, bahkan pemerintah pun juga mengajak semuanya untuk menyemarakkan pergantian tahun Islam ini.

Karena bulan Muharram merupakan awal tahun depan yang sakral dalam kalender Islam, secara harfiah arti dari bulan Muharram adalah terlarang, selain itu bulan Muharram juga terma-suk bulan yang sangat dimuliakan Allah Swt.

Saking mulianya, bulan Muharram menda-patkan julukan syahrullah atau bulan Allah, karena dibulan ini sangat mulia dan terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk melaku-kannya contohnya puasa.

Hari demi hari telah kita lalui, minggu demi minggu pun telah kita lalui dan bulan demi bulan pun telah bergantian menjadi tahun berikutnya, namun pernahkan kah kita berpikir selama tahun ini apa yang telah kita lakukan untuk diri kita dan orang lain.

Selagi kita masih bisa untuk merenung, renungkanlah sejenak apa yang telah kita lakukan.

Selagi kita masih bisa untuk menangis menyesali perbuatan buruk yang telah kita laku-kan selama ini maka menangislah.

Dengan merenungkan kesalahan yang telah lalu tidak menjatuhkan harga diri kita dihadapan-Nya, dan dengan menangisnya kita untuk menyesali perbuatan buruk kita yang lalu pun tidak akan merugikan kita di hadapan-Nya.

Kita merenung apa yang telah kita perbuat selama satu tahun ini, berapa kebaikan yang telah kita perbuat, berapa maksiat yang telah kita lakukan, dan seberapa banyak sunnah-sunnah yang kita terapkan.

Terkadang kita terlena dengan pergantian tahun ini, umur kita telah bertambah namun pada hakikatnya umur kita untuk hidup menghirup udara Allah Swt ini sudah semakin singkat, artinya jumlah yang bertambah tapi kesempatan yang semakin sedikit.

Andai usia kita menurut usia Nabi kita Muhammad Saw selama 63 tahun, dan sekarang usia kita sudah 62 tahun 11 bulan, artinya kesempatan kita untuk hidup ini hanya menyisa-kan waktu 1 bulan saja, dan nanti kita diminta untuk mempertanggung jawabkan usia yang telah Ia titipkan kepada kita, kemana usia yang diberikanNya kita habiskan.

Andai kita banyak menghabiskan waktu yang diberikan untuk beribadah serta sibuk mempersiapkan bekal untuk kembali kekampung yang sebenarnya, maka beruntunglah kita, namun bila waktu yang diberikan kepada kita banyak kita sia-siakan maka celakalah kita.

Andai saat ini kita masih diberikan kesempatan usia maka gunakanlah sebaik-baiknya, karena betapa banyak orang-orang yang telah lebih dulu kembali kepada-Nya ingin minta dihi-dupkan kembali hanya untuk berbuat kebaikan.

Selagi kita masih sehat gunakan kesehatan kita untuk melakukan hal-hal yang baik, yang nanti dapat menolong kita dihadapan-Nya.

Selagi kita masih ada waktu jangan tinggal-kan kewajiban kita kepada-Nya, selagi kita diberikan harta oleh-Nya maka gunakanlah harta yang hanya titipan itu untuk membantu fakir miskin, anak yatim, membangun madrasah-madrasah, sekolah-sekolah untuk anak-anak kita menuai pendidikan, satu milyar uang yang miliki tapi yang kita infakkan hanya seribu rupiah maka itulah hakikatnya milik kita.

Masa muda mu yang saat ini masi kuat manfaatkanlah sebelum kau menjadi tua dan tak berdaya.

Dan yang lebih penting dari itu semua gunakan hidup mu saat ini untuk beribadah sebelum nanti kau menyesal saat jasad mu ditinggalkan oleh ruhnya, sebelum kau kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa, maka lakukanlah semua yang dianjurkan oleh-Nya agar hidup kita yang singkat ini tidak menjadi sia-sia.

Hidup kita ini sangat singkat Cuma berselang dengan siang dan malam, dan hidup ini diibaratkan kita untuk bercocok tanam dan nanti pada akhirnya barulah kita akan menuai hasil dari apa yang kita tanam, andai tanaman yang kita tanam saat ini banyak kebaikan dan anjuran-Nya maka selamatlah kita dari siksa-Nya.

Sebagai muhasabah bagi kita diakhir tahun ini, sudah siapkah kita jika detik ini adalah akhir dari kehidupan kita???
Wassalam……

Tinggalkan Balasan