Loading...

Sabtu, Mei 15, 2021

Hal Terpenting Diingat

KENIKMATAN memiliki iman yang sebenar adalah cita-cita mulia setiap hamba Allah. Tetapi, ramai yang hampa ketika beribadat. Ritual yang dijalankan hanya sekadar melepas tanggung-jawap fardu, tetapi di manakah kenikmatan dan kemanisannya?

Apakah khilafnya sehingga diri terasa jauh daripada Allah walaupun tidak meninggalkan ibadat fardu dan sunat?

Bukankah Allah berfirman dalam hadis qudsi bermaksud: “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melainkan seperti mereka yang mengerjakan apa-apa yang Aku fardukan ke atas mereka. Dan senantiasalah hamba-Ku menghampirkan diri kepada-Ku dengan yang sunat sehingga Aku mencintainya, maka apabila Aku telah mencintainya Akulah pendengaran yang dengannya ia mendengar dan Akulah penglihatan yang dengannya ia melihat dan Akulah lidah yang dengannya ia bercakap dan Akulah tangan yang ia menyentuh dan Akulah kaki yang ia berjalan dengannya.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

Hadis di atas menerangkan bahwa sesiapa yang sudah mengerjakan fardu dan sunat dalam ibadat hariannya, semestinya akan menjadi manusia baru yang sempurna keperibadiannya.

Tetapi mengapa hati kita tidak dapat meresapi kasih Allah itu. Mungkinkah karena terlalu yakin sehingga melahirkan sikap berpuas hati dengan iman dan amal?

Kita merasakan Syurga di depan mata sedang menanti, padahal itu hanya tipu daya Syaitan yang menghiasi pandangan mata. Akhirnya, kita meremehkan dosa maksiat karena merasakan ada modal ibadat yang telah dilakukan.

Ingatlah kepada roh kita ketika berada dalam rahim ibu yang dikasihi. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya 40 hari air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama 40 hari lagi, kemudian menjadi seketul daging selama 40 hari, kemudian diutuskan kepadanya malaikat, lalu ditiupkan ruh kepadanya dan dituliskan empat kalimah iaitu rezekinya, umurnya, amalnya, celakanya atau bahagianya.

Maka, demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya seseorang mengerjakan perbuatan amal ahli syurga sehingga tidak ada jarak antaranya dengan syurga itu melainkan sehasta, kemudian terdahulu atasnya ketentuan tulisan lalu ia pun mengerjakan amal ahli Neraka, maka masuklah ia ke dalamnya.

Dan seseorang mengerjakan amal ahli neraka sehingga tidak ada jarak antaranya dengan neraka kecuali sehasta. Kemudian terdahulu atasnya ketentuan tulisan, lalu ia pun mengerjakan amalan ahli syurga, maka masuklah ia ke dalamnya.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang daripada kamu melainkan telah dituliskan tempat duduknya di neraka dan tempat duduknya di syurga.”

Lalu mereka berkata: “Ya Rasulullah kalau begitu maka apakah kami patut berserah saja kepada tulisan kami dan tinggalkan amal?

Rasulullah bersabda: Beramallah kamu, maka semuanya akan dipermudahkan kepada apa yang telah dituliskan bagi kamu. Adapun orang yang berbahagia, maka ia akan beramal dengan amal golongan bahagia, demikian sebaliknya. (*)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: