Minggu, September 19, 2021

Kezuhudan Umar bin al Khattab r.a. (2)

HAYATUSH SHAHABAH – Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari al Hasan al Basri katanya: Aku datang menghadiri satu majelis di masjid Jami Basrah. Aku duduk di antara sekumpulan sahabat-sahabat Rasulullah saw. yang berbincang-bincang mengenai kezuhudan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. dan bagaimana Allah membuka hati mereka untuk agama Islam dan keindahan perilaku mereka. Aku pun mendekati kumpulan sahabat-sahabat itu. Di antara mereka adalah al Ahnaf bin Qis at Tamimi r.a. dan aku telah mendengar ia berkata, “Kami pernah dihantar oleh Umar bin al Khaththab r.a. untuk berangkat di dalam suatu sariyah ke Iraq. Maka Allah swt. Memberikan kemenangan kepada kami atas Iraq dan negeri Persia. Dengan demikian, kami telah memperoleh perak dari negeri Persia dan Khurasan. Lalu kami pun menyimpannya. Ketika kami kembali ke Madinah dan sampai di hadapan Umar r.a., ia memalingkan mukanya dari kami dan enggan bercakap-cakap dengan kami.”

Sikap Umar r.a. yang demikian menyebabkan sahabat-sahabat merasa kecil hati dan sedih, lalu kami pun pergi menemui anak lelakinya, Abdullah bin Umar r.a. yang sedang duduk di dalam masjid. Kami pun mengadu kepadanya mengenai apa yang telah terjadi kepada kami, mengenai sambutan dingin yang telah diberikan oleh ayahnya atas kepulangan kami.

Abdullah berkata kepada kami, “Sesungguhnya Amirul Mukminin telah melihat pakaian yang ada pada tubuh engkau sedangkan ia tidak pernah melihat Rasulullah saw. memakainya. Begitu juga ia tidak pernah melihat Khalifah Abu Bakar r.a. memakainya.”

Maka kami pun pulang ke rumah masing-masing dan menanggalkan pakaian yang telah kami pakai sewaktu pulang dari Iraq dan Persia itu. Setelah itu kami menemui Umar r.a. dengan memakai pakaian yang ia selalu melihat kami memakainya.

Melihat kedatangan kami, ia bangun seraya memberi salam kepada setiap orang dari kami dan memeluk kami satu per satu, seolah-olah ia tidak pernah melihat kami sebelumnya. Kami pun menyerahkan kepadanya semua harta rampasan lalu ia membagi-bagikannya di antara kami dengan sama rata. Kemudian ia menerima sebuah bakul yang berisi makanan dari buah kurma dan minyak sapi.

Lalu Umar r.a. mencicipi makanan itu dan makanan itu sungguh lezat serta baunya sangat enak. Maka ia menghampiri kami sambil berkata, “Demi Allah! Wahai orang-orang Muhajirin dan Anshar, bapak akan memerangi anaknya dan anaknya akan memerangi bapaknya semata-mata memperebutkan makanan yang selezat ini.”

Oleh karena itu, ia pun memerintahkan supaya makanan itu diberikan kepada anak-anak dari para Muhajirin dan Anshar yang telah terbunuh semasa hayat Rasululluh saw.

Kemudian, Umar r.a. berpaling dari tempat itu. Manakala sahabat-sahabat mengikutinya di belakangnya, mereka berkata, “Apakah pendapat engkau sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar mengenai lelaki ini dan perilakunya?

Sesungguhnya hati nurani kami telah menjadi begitu bernilai sejak Allah memberi kemenangan ke tangan kaum muslimin pada zamannya, rombongan-rombongan dari jazirah Arab dan Ajam (bukan Arab) mulai datang menemui Umar r.a. dan mereka melihat ia berpakaian yang compang-camping dan bertambal dua belas.”

“Wahai sahabat-sahabat Rasulullah saw.! kalian dari kalangan sahabat-sahabat yang unggul dan kalian telah menyertai Rasulullah saw. di dalam berbagai perang dan para sahabat Muhajirin dan Anshar al Auwalin. Sekiranya kalian meminta ia menukarkan kehebatan bagi siapa yang melihatnya, adalah lebih baik berdasarkan kepada kedudukannya. Makanan hendaklah dihidangkan kepadanya setiap pagi dan petang agar ia dapat makan bersama-sama dengan orang-orang Muhajirin dan Anshar.”

Para sahabat yang hadir di situ berkata, “Tidak ada orang yang layak untuk mengemukakan persoalan ini kepada Umar r.a. kecuali Ali r.a. karena ia seorang yang berani dan juga Umar r.a. adalah menantunya Ali r.a. Atau anaknya Umar, yaitu Hafshah r.ha., karena ia adalah istri Rasulullah saw. dan lebih layak karena kedudukannya di sisi Rasulullah saw..”

Mereka pun memberi tahu rencana itu kepada Ali r.a. lalu Ali r.a. berkata, “Aku tidak akan melakukannya, sebaliknya pergilah menemui istri-istri Rasulullah saw. karena mereka adalah ibu orang-orang mukmin, mereka lebih berani menyuarakan pendapat kepadanya.”

Lalu para sahabat bertanya kepada ‘Aisyah dan Hafshah r.hum. yang keduanya sedang berkumpul. ‘Aisyah berkata, “Aku akan bertanya kepada Amirul Mukminin mengenai persoalan ini.”

Hafshah pun berkata, “Sudah tentu ia tidak akan menerima rencana ini.”

Kemudian keduanya masuk menemui Umar r.a. lalu Umar r.a. pun duduk berdekatan dengan mereka. ‘Aisyah r.ha. memulai pembicaran dengannya, “Ya, Amirul Mukminin! Apakah enggkau mengijinkan aku berbicara denganmu?”

Kata Umar r.a., “Bicaralah wahai ummul mukminin!”

‘Aisyah r.ha. berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. telah pergi dan dalam perjalanan menuju Jannah dan keridhaan Allah swt.. Beliau telah menolak kebesaran dunia dan dunia juga enggan dekat kepadanya.

Begitu juga Abu Bakar r.a. telah meninggal dunia dengan mengikuti jalan yang telah diikuti oleh Rasulullah saw. satelah ia menghidupkan sunnah Rasulullah saw. dan membunuh orang-orang yang mendustakannya dan mendustakan agamanya. Ia membatalkan setiap tindakan orang-orang yang melakukan kejahatan dengan keadilan, ia juga telah membagi-bagikan harta kepada sesama manusia dan meridhakan Rabbnya. Maka Allah telah mencabut ruhnya kepada rahmat dan keridhaan-Nya dan mempertemukannya dengan Nabi-Nya. Allah telah membukakan dengan perantara kedua tanganmu kekayaan Kisra dan Kaisar dan negeri mereka dan mengakibatkan semua harta dan kekayaan mereka berpindah ke tanganmu. Engkau telah berkuasa di atas kawasan antara timur dan barat. Kami berharap dari Allah agar membantu agama Islam dengan pertolongan-Nya. Utusan-utusan orang-orang Ajam telah datang mengunjungi engkau. Begitu juga dengan rombongan-rombongan orang-orang Arab, semuanya datang kepada engkau sedang engkau masih mengenakan pakaian ini. Pakaian ini telah ditambal dua belas tambalan. Jika engkau menukarkannya dengan pakaian yang lebih lembut kainnya, maka engkau akan kelihatan lebih hebat dalam pandangan mata manusia. Begitu juga makanan akan dihidangkan kepada engkau pagi dan petang dalam jamuan yang dihadiri oleh sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin.”

Setelah Aisyah selesai bicara, Umar r.a. mulai menangis dengan tangisan yang keras, kemudian berkata, “Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah. Apakah kamu mengetahui bahwa Rasulullah saw. tidak pernah makan roti selama sepuluh tahun, lima atau tiga belas hari berturut-turut atau pernahkah Baginda saw. makan pagi dan petang tanpa ketinggalan salah satu darinya dalam sehari sehingga baginda saw.wafat?”

Jawab ‘Aisyah, “Tidak.”

Lalu Umar r.a. menoleh ke arah Aisyah sambil bertanya, “Apakah kamu mengetahui bahwa kepada Rasulullah saw. pernah dihidangkan makanan yang diletakkan di atas meja yang dinaikkan sejengkal dari tanah kemudian baginda saw. memerintah supaya meja itu dialihkan darinya dan sebaliknya memerintahkan makanan itu diletakkan di atas tanah?”

Keduanya menjawab , “Ya”

Kata Umar kepada Hafshah dan Aisyah r.huma., “Kamu berdua adalah istri-istri Rasulullah saw. dan ibu-ibu orang-orang mukmin. Kamu mempunyai hak atas orang-orang beriman dan atas aku. Tetapi kamu berdua telah datang menemuiku untuk menimbulkan dalam hatiku gairah terhadap kehidupan dunia.”

“Sesungguhnya aku mengetahui bahwa Rasulullah saw. pernah memakai pakaian dari kain bulu yang lembut yang menyebabkan kulitnya menjadi gatal disebabkan kelembutan pakaian itu. Adakah kalian berdua mengetahuinya?”

Keduanya menjawab, “Ya Allah! Benar sekali.”

Umar r.a. bertanya lagi kepada Hafshah dan Aisyah, “Adakah kamu mengetahui bahwa Rasulullah saw. tidur di atas selimutnya yang dilapis satu. Ya Aisyah! Sesungguhnya di rumahmu terdapat satu helai tikar yang dijadikan tempat alas duduk pada siang hari dan tilam pada malamnya.

Pada suatu ketika kami masuk menemui Rasulullah saw. dan mendapati bekas-bekas tikar itu pada tubuh baginda saw. Ya Hafshah! Kamu telah menceritakan kepadaku bahwa pada suatu malam kamu membentangkan sehelai kain yang lembut sebagai alas tidur, lalu Rasulullah saw. tidur di atasnya dengan nyenyak sekali dan tidak bangun sehingga Bilal mengumandangkan adzan shalat shubuh.”

“Baginda saw. telah bersabda kepadamu, ‘Ya Hafshah! Apakah yang telah kamu lakukan?

Adakah engkau membentangkan kain yang dilipat dua sebagai alas tidurku sehingga aku tidak mampu bangun malam melainkan adzan shubuh dikumandangkan?

Apakah yang harus dilakukan dengan dunia? Apakah yang menyebabkan kamu menyibukkan dengan kelembutan tilam ini? Ya Hafshah!’”

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa Rasulullah saw. baik yang lalu maupun yang akan datang. Rasulullah saw. telah mengalami kelaparan pada waktu pagi dan petang.

Rasulullah saw. telah menghabiskan waktu malam dengan sujud, ruku, menangis dan merendahkan diri pada kedua tepi waktu malam dan siang sehingga Allah mengambil nyawanya dengan rahmat dan keridhoan-Nya.”

Setelah itu, Umar r.a. tidak pernah makan makanan yang baik-baik, memakai pakaian yang lembut dan ia sangat tabah mengikuti jejak langkah kedua sahabatnya yang telah meninggal dunia itu. Ia tidak pernah mengumpulkan di antara dua kuah melainkan apa yang dimakannya adalah garam dan minyak. Ia tidak makan daging kecuali sekali dalam sebulan.

Akhirnya kedua istri nabi saw. itu meninggalkan Umar r.a., dan Umar terus dalam keadaan demikian hingga ia meninggal dunia.

Dikeluarkan oleh Abdul Razak, al Baihaqi dan Ibnu Asakir dari ‘Ikrimah bin Khalid bahwa Hafshah, Ibnu Muthi’ dan Abdullah bin Umar r.a. berkata kepada Umar bin al Khaththab r.a., “Jika engkau makan makanan yang baik, maka makanan itu akan memberikan kekuatan kepadamu untuk membela yang hak.”

Umar r.a. berkata ,”Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu bertujuan memberikan nasihat kepadaku, akan tetapi aku telah meninggalkan dua orang sahabatku (Rasulullah saw. dan Abu Bakar r.a.) di atas satu jalan, apabila aku meninggalkan jalan yang telah diikuti oleh mereka niscaya aku tidak akan sampai menemui mereka di tempat tujuan kami.” (Muntakhab al Kanz)

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif r.hum. katanya: Sejak sekian lama Umar r.a. tidak mengggunakan sarana dari Baitul Mal sehingga ia mengalami kefakiran dan kesempitan hidup.

Suatu masa, ia menghantar orang suruhannya kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw. untuk meminta pandangan mereka agar masalah itu dapat diselesaikan dengan cara yang makruf dan mengandung maslahat.

Ia berkata kepada utusannya agar menyampaikan kata-katanya Sahabat-sahabat Rasulullah saw., “Jabatan Khalifah ini telah menjadikanku sibuk sekali, adakah jalan keluar yang sesuai untukku.” (Karena ia tidak lagi mempunyai waktu yang cukup untuk mencari nafkah)

Mendengar yang demikian, Utsman bin Affan r.a. berkata, “Makanlah engkau dan beri makan kepada orang lain.”

Sa’id bin Amru bin Nufail r.a. juga mengemukakan pendapat yang sama seperti yang telah diberikan oleh Utsman bin Affan r.a..

Ali r.a. berkata, “Dua kali makan, siang dan malam.”

Maka Umar r.a. mengambil saran Ali r.a. (Muntakhab al Kanz)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: