Minggu, September 19, 2021

Kezuhudan Umar bin al Khattab r.a. (3)

HATUSH SHAHABAH – Dikeluarkan oleh Abdul bin Hamid dan Ibnu Jarir dari Qatadah r.a. katanya: Telah diberitahu kepada kami bahwa Umar bin al Khaththab r.a. pernah berkata, “Jika aku mau aku bisa makan makanan yang terbaik dan memakai pakaian yang paling lembut dibandingkan dengan makanan dan pakaianmu, tetapi aku ingin menjaga kemurnian hatiku.”

Telah diceritakan kepada kami bahwa pada suatu ketika Umar bin al Khaththab r.a. telah sampai ke Syam. Makanan pun disediakan untuknya, yaitu makanan yang belum pernah dilihat olehnya sebelum itu. Melihat makanan itu, ia bertanya, “Apakah makanan ini untuk kami?

Mana makanan untuk kaum muslimin yang fakir dan yang telah wafat, sedangkan mereka tidak pernah merasa kenyang dengan makan roti yang terbuat dari barli?”

Mendengar perkataan Umar r.a. itu, Umar bin al Wahid berkata, “Untuk mereka adalah Jannah.”

Kelopak mata Umar r.a. pun bergenang dengan air mata setelah mendengar perkataan Umar bin al Wahid itu, lalu ia berkata, “Jika bagian keuntungan kita hanya dengan memiliki harta dunia ini saja sedangkan mereka telah pergi meninggalkan dunia ini dengan memperoleh Jannah, sesungguhnya terdapat jarak yang besar di antara kita dan mereka.” (al Muntakhab)

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Umar r.hum. bahwa sesungguhnya ia telah ditemui oleh Umar r.a. di tempat ia menghadapi hidangannya. Kemudian ia pun menyediakan tempat duduk untuk Umar r.a. lalu Umar r.a. membaca “Bismillah” kemudian mengambil sepotong makanan kemudian potongan yang kedua, setelah itu ia berkata, “Sesungguhnya aku mendapati makanan ini agak berlemak, tetapi ini bukanlah lemak daging.”

Abdullah bin Umar r.a. berkata kepada bapaknya itu, “Ya Amirul Mukminin! Sesungguhnya aku telah pergi ke pasar untuk membeli lemak daging tetapi ternyata harganya terlalu mahal. Karena itu aku membeli daging yang biasa dengan harga satu dirham dan membeli lemak daging seharga satu dirham. Aku mengharapkan setiap orang dari kita akan memperoleh sepotong tulang.”

Umar r.a. berkata, “Tidaklah berkumpul dua benda makanan pada Rasulullah saw., melainkan baginda saw. akan memakan salah satu darinya dan menyedekahkan yang satu lagi.”

Abdullah r.a. pun berkata, “Ambillah ia ya Amirul Mukminin! Tidaklah akan berkumpul dua makanan padaku melainkan aku akan melakukan sedemikian (sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw.).”

Umar r.a. berkata, “Aku tidak boleh menjamahnya sekarang.” (al Kanz)

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Abu Hazim katanya: Umar bin al Khaththab r.a. masuk menemui anak perempuannya Hafshah r.ha..

Hafshah r.ha. telah menghidangkan untuknya kuah gulai yang telah dingin dan sepotong roti. Ia mengucurkan minyak zaitun ke dalam kuah itu. Umar r.a. pun berkata kepada Hafshah r.ha., “Dua jenis kuah dalam satu wadah, aku tidak akan menjamahnya sehingga aku bertemu dengan Allah.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari Anas r.a. katanya: Aku pernah melihat Umar bin al Khaththab r.a. pada suatu kesempatan dan ketika itu ia telah menjadi Amirul Mukminin. Satu sa’at buah kurma dihidangkan kepadanya dan ia akan memakannya termasuk buah kurma yang terjatuh dari sa’a itu.”

Dari Saib bin Yazid katanya: Dalam beberapa kesempatan aku telah makan malam bersama-sama dengan Umar r.a.. ia memakan roti dan daging kemudian menyapu tangannya ke tapak kakinya (untuk menghilangkan lemak pada tangannya itu). Kemudian ia berkata ini adalah sapu tangan Umar dan ahli keluarga Umar.”

Dalam riwayat ad Diruni dari Tsabit katanya: Al Jarud pernah makan malam bersama Umar bin al Khaththab r.a.. Setelah selesai makan al Jarud berkata kepada budak perempuannya, “Wahai hamba perempuan! Bawakanlah sapu tangan.”

Tetapi Umar r.a. berkata, “Sapulah tanganmu dengan punggungmu.”

Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab Al Hilyah dari Abdul Rahman bin Abu Laila katanya: Sekumpulan orang penduduk Iraq datang menemui Umar r.a.. Ia melihat seolah-olah mereka makan sedikit sekali lalu berkata kepada mereka, “Jika aku mau, makanan yang baik pun bisa disediakan untukku sebagaimana makanan yang baik itu dimasakkan untuk kamu, akan tetapi kami telah menolak kemewahan dan kelezatan dunia untuk memperoleh kelezatan itu di alam akhirat. Adakah kamu tidak mendengar bahwa Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاعَلَى النَّارِۗ اَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَاۚفَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَاكُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِالْحَقِّ وَبِمَاكُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), ‘Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniamu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik.” (Q.s. Al Ahqaaf: 20)

Dikeluarkan juga oleh Abu Nu’aim dan Hanad dari Habib bin Abi Tsabit dari beberapa orang sahabat Umar r.a. sesungguhnya satu rombongan dari ahli Iraq datang menemui Umar r.a.. Diantara mereka adalah Jarir bin Abdullah r.a..

Umar menghidangkan kepada mereka satu mangkuk roti dan minyak zaitun. Ia berkata kepada mereka, “Makanlah!” maka mereka pun makan dengan pelan sekali. Melihat cara mereka makan seperti itu, Umar r.a. pun berkata kepada mereka, “Aku telah melihat apa yang kamu lakukan. Apa yang kamu inginkan? Apakah mau yang manis, yang pahit, yang panas atau yang dingin. Semuanya akan hancur dalam perut.” (Muntakhab al Kanz)

Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dan Abdul bin Hamid dari Hamid bin Hilal sesungguhnya Hafs bin Abi al ‘As r.a. menghadapi makanan yang disediakan oleh Umar r.a. tetapi ia tidak turut makan bersama-sama dengan Umar r.a. oleh karena itu, Umar r.a. berkata, “Apakah yang menghalangi kamu menjamah makanan ini?”

Hafs berkata, “Sesungguhnya makananmu kasar dan kesat, aku akan makan sekiranya makanan itu lembut.”

Mendengar perkataan Hafs itu, Umar r.a. pun berkata, “Apakah kamu fikir aku tidak mampu memerintahkan supaya seekor kambing disembelih untukmu, bulunya dicabut. Kemudian aku memerintahkan agar tepung dikisar dan diayak lalu roti yang lembut disediakan. Setelah itu aku memerintahkan pula agar satu sa’a buah kismis dimasak dengan keju. Kemudian air dituangkan ke dalamnya sehingga menjadi seolah-olah darah kijang?”

Maka Hafs berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau tahu tentang kehidupan yang baik.”

Umar r.a. berkata, “Benar sekali. Demi Dia yang memegang nyawaku! Jikalau tidak ku takutkan amalan kebaikanku berkurang timbangannya pada hari kiamat sudah pasti aku menjalani kehidupan seperti yang kamu lalui.” (Muntakhab al Kanz)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: