Minggu, September 19, 2021

Kezuhudan Umar bin al Khattab r.a.

HAYATUSH SHAHABAH – Dikeluarkan oleh at Tibri dari Salim bin Abdulah katanya: Ketika Umar bin al Khaththab di lantik sebagai khalifah, ia menerima tunjangan hidup dari Baitul Mal dalam jumlah yang sama seperti yang telah diterima oleh Abu Bakar r.a.

Namun ketika Umar r.a. menghadapi masalah keuangan, sekumpulan sahabat Muhajirin berkumpul untuk memperbincangkan masalah itu. Termasuk di antara mereka ialah Utsman, Thalhah, Ali dan az Zubair r.an hum..

Az Zubair berkata, “Bagaimana apabila kita meminta kepada Umar supaya tunjangannya ditambah.”

Ali pun berkata, “Kami sangat ingin melakukannya sebelum ini. Marilah kita pergi menemuinya.”

Lalu Utsman r.a. berkata, “Ia adalah Umar bukan orang lain (Umar r.a. sangat tegas dengan suatu perkara terutama yang berkaitan dengan caranya mencontoh kehidupan Rasulullah saw.). Karena itu, lebih baik kita bertemu dengannya dan meminta pendapatnya mengenai perkara ini. Kita hendaklah bertemu dengan Hafshah r.ha. terlebih dahulu dan memintanya membicarakan perkara ini kepada Umar r.a. dan meminta agar ia tidak memberitahu nama-nama orang yang terlibat dalam urusan ini.”

Mereka pun pergi menemui Hafshah r.ha. dan meminta agar ia memberitahu Umar r.a. mengenai hal itu tanpa memberitahu nama-nama orang yang terlibat dalam rancangan itu. Setelah mereka kembali dari menemui Hafshah r.ha., mereka pun pulang.

Tidak lama setelah itu, Hafshah bertemu Umar r.a. dan ia dapat melihat tanda-tanda kemarahan di wajahnya. Ia berkata, “Siapakah mereka itu?”

Hafshah menjawab, “Tidak ada jalan untuk mengetahui siapa mereka hingga aku mengetahui pendapat engkau.”

Umar r.a. berkata, “Sekiranya aku mengetahui siapakah mereka, aku akan memukul wajah mereka. Engkau dan aku ya Hafshah bersumpah atas nama Allah. Kamu mengetahui kain seperti apakah yang terbaik yang disimpan oleh Rasulullah saw. di dalam rumahmu?”

Hafshah menjawab, “Dua helai kain yang dicelup warna merah yang sering dipakai oleh baginda saw. apabila menerima tamu dan apabila memberikan khutbah Jum’at.”

Umar r.a. bertanya, “Apakah makanan yang terbaik yang pernah kamu hidangkan kepadanya?”

Hafshah menjawab, “Roti kami dibuat dari tepung barli. Saya mengoleskan minyak di atasnya apabila roti itu sedang panas dan memotong-motongnya lalu menghidangkannya di hadapan Rasulullah saw.. Kemudian Rasulullah saw. memakannya dan menganggapnya sebagai makanan yang terbaik.”

Umar r.a. bertanya kepada Hafshah r.ha., “Apakah alas tidur yang paling lembut yang dimiliki oleh Rasulullah saw.?”

Hafshah menjawab, “Kami mempunyai sehelai kain selimut yang kasar. Pada musim panas kami melipatnya empat lipatan dan berbaring di atasnya. Apabila musim dingin, kami melipatkan menjadi dua lipatan, sebagiannya kami gunakan sebagai alas tidur sebagian lagi kami gunakan untuk menyelimuti tubuh kami.”

Umar r.a. berkata, “Ya Hafshah! Sampaikanlah kepada mereka apa yang akan aku katakan ini. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah meletakkan kadar tertentu di tempatnya dan satu penambahan pun hendaklah dilakukan mengikuti keadaannya. Dan sesungguhnya aku juga telah menentukan kadar untuk diriku dan kadar serta ketetapan itu diikuti.

Perumpamaanku dengan dua orang sahabatku adalah seumpama tiga orang yang mengikuti satu jalan. Orang yang pertama telah melalui jalan dengan membawa bekalnya dan telah sampai ke tempat tujuannya. Orang yang kedua juga telah mengikutinya, lalu ia pun mengikuti jalan yang telah diikuti oleh orang yang pertama lalu sampai ke tempat tujuannya. Kemudian orang yang ketiga mengikutinya. Jika ia mengikuti jalan yang telah diikuti oleh orang pertama dan kedua dengan bekal seperti kedua orang itu, niscaya ia juga akan sampai ke tempat tujuannya. Jika ia mengikuti jalan selain jalan yang telah diikuti kedua orang itu, maka ia tidak akan menemui kedua sahabatnya itu.”

Dikeluarkan juga oleh Ibnu Asakir dari Salim bin Abdullah, hadits serupa dengannya. Sebagaimana dalam Muntakhab al Kanz.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: