MUHASABAH (introspeksi diri), merupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan. Muhasabah artinya menghisab atau menghitung, diidentikkan dengan menilai diri sendiri.

Dalam melakukan muhasabah, seorang Muslim menilai dirinya, apakah dirinya lebih banyak berbuat baik (beribadah) ataukah malah lebih banyak berbuat jahat (bermaksiat) dalam kehidupan sehari-hari. Idealnya seorang muslim mela-kukan muhasabah setiap hari.

Khalifah Umar Ibnul Khattab mengatakan, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang nanti dan bersiap-siaplah untuk hari menghadap yang paling besar (hari menghadap Allah).”

Firman Allah Swt, “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS al-Haqqah: 18).

Moment penting

Pergantian tahun juga bisa dijadikan moment penting merenungkan apa-apa yang telah berlalu dalam hidup kita selama setahun ini. Tujuannya, di satu sisi untuk kita syukuri, di sisi lain untuk kita istighfari, dan di sisi yang lainnya lagi untuk kita ambil ibrah (pelajaran) darinya bagi masa depan kita yang lebih baik.

Segala hal baik, positif dan konstruktif, serta beragam kenikmatan yang telah kita terima selama setahun berlalu ini, semua itu wajib kita syukuri. Disertai harapan semoga Allah Swt, mempertahankannya dan bahkan menambah serta meningkatkannya bagi kita.

Sedangkan untuk segala hal buruk, negatif, destruktif, dosa dan kemaksiatan yang juga tak terhitung dalam kurun usia setahun yang lalu ini, maka kita wajib bertaubat darinya dengan taubatan nashuha dan beristighfar atasnya dengan istighfar yang sejujur-jujurnya dan setulus-tulusnya.

Disertai harapan semoga Allah Swt menutup tahun ini bagi kita semua dengan penerimaan yang baik terhadap taubat dan istighfar kita, serta membuka lembaran tahun baru dengan taufiq perubahan dan perbaikan diri. Amin.

Adapun terhadap semua kondisi yang kita terima, hadapi dan alami, selama setahun berlalu ini, dan juga sebelumnya.

Semuanya merupakan dinamika hidup berupa: sukses dan gagal, untung dan rugi, sehat dan sakit, naik dan turun, bangun dan jatuh, dan seterusnya.

Maka mari kita bijak dan tepat dalam meng-ambil ibrah dan pelajaran sebanyak-banyaknya dari semuanya, untuk kepentingan dan kemaslahatan hidup kita di masa mendatang yang lebih baik, lebih positif, lebih konstruktif dan lebih gemilang!

Manusia ada tiga golongan: Pertama, golongan beruntung (rabih), jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maksudnya, amal.

Kedua, golongan merugi (khasir), jika hari ini sama dengan hari kemarin. Dengan demikian, amal perbuatannya hari ini sama dengan hari kemarin.

Dan, ketiga, golongan celaka (mal’un), jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Ini berarti, amal perbuatannya hari ini lebih sedikit atau dosa yang diperbuatnya lebih banyak dari hari kemarin.

Di manakah posisi kita di antara ketiga golongan tersebut? Metode yang bagus untuk mengatasi itu semua adalah dengan selalu introspeksi diri.

Hasan al-Bashri berkata, ”Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi dirinya sendiri karena Allah. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan akan ringan bagi mereka yang telah mengadakannya di dunia. Sebaliknya hisab akan berat bagi kaum yang menem-puh urusan ini tanpa pernah berintrospeksi.”

Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhud dan at-Tirmidziy dalam Sunan-nya meriwayatkan secara mauquf dari Umar ibn Khatthab ra, seperti telah penulis sebutkan di awal tulisan ini.

Allah Swt berfirman, ”Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS. al-Anbiya: 1). Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan