Loading...

Sabtu, Mei 15, 2021

Risalah Ramadhan (2)

Sebagai seorang muslim yang memahami betul tentang keutamaan bulan Ramadhan tentu akan menggunakan waktu sebaik mungkin untuk beramal kebaikan, seperti shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dzikir, do’a dan istighfar.

Ramadhan adalah kesempatan untuk menanam bagi para hamba Allah, membersihkan hati dari kerusakan. Juga wajib menjaga anggota badan dari segala dosa, seperti berkata yang haram, melihat yang haram, mendengar yang haram, minum dan makan yang haram agar puasanya menjadi bersih dan diterima serta orang yang berpuasa memperoleh ampunan dan pembebasan dari api Neraka.

Shalat 5 waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan diantaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan”. (Muslim)

Jadi hal-hal yang fardhu ini dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, dengan syarat dosa-dosa besar ditinggalkan. Dosa-dosa besar, yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman di dunia dan siksaan di akherat. Misalnya : zina, mencuri, minum arak, mencaci kedua orang tua, memutuskan hubungan kekeluargaan, transaksi dengan riba, mengambil risywah (uang suap), bersaksi palsu, memutuskan perkara bukan dengan hukum dari Allah. Dosa-dosa besar ini tidak akan diampunkan kecuali memohon
ampun dan bertaubat kepada Allah.

Hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa Ramadhan

Puasa ialah menahan diri dari makan, minum dan bersenggama mulai dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya matahari. Firman Allah : ”………. dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam ……….”. (Al Baqarah : 187)

Puasa Ramadhan wajib dikerjakan setelah terlihatnya hilal, atau setelah bulan Sya’ban genap 30 hari. Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila hilal awal bulan Ramadhan disaksikan seorang yang dipercaya, sedangkan awal bulan-bulan lainnya ditentukan dengan kesaksian dua orang yang dipercaya.

Puasa Ramadhan diwajibkan atas setiap muslim yang baligh (dewasa), aqil (berakal), dan mampu untuk berpuasa. Adapun syarat wajib berpuasa ada empat, yaitu : Islam, berakal, dewasa dan mampu.

Anak kecil disuruh berpuasa jika kuat, hal ini untuk melatihnya, sebagaimana disuruh shalat pada umur 7 tahun dan dipukul pada umur 10 tahun agar terlatih dan membiasakan diri.
Syarat sah puasa ada 6, yaitu :
1. Islam ; tidak sah puasa orang kafir sebelum dia masuk Islam
2. Akal ; tidak sah puasa orang gila sampai dia berakal
3. Tamyiz ; tidak sah puasa anak kecil sebelum dapat membedakan (yang baik dan yang buruk)
4. Tidak haid ; tidak sah puasa wanita haid, sebelum berhenti haidnya
5. Tidak nifas ; tidak sah puasa wanita nifas, sebelum suci dari nifasnya
6. Niat ; dari malam hari untuk setiap hari puasa wajib. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW., ”Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya”. (Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, An Nasa’i, At Tirmidzi). Dan hadits ini menunjukkan tidak sahnya puasa kecuali diiringi dengan niat sejak malam hari, yaitu dengan meniatkan puasa di salah satu bagian malam.

Sunnah-sunnah puasa

Sunnah puasa ada enam, yaitu :
1. Mengakhirkan sahur sampai akhir waktu malam, selama tidak mengkhawatirkan terbit fajar.
2. Segera berbuka puasa bila benar-benar matahari terbenam
3. Memperbanyak amal kebaikan, terutama menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah, menunaikan zakat harta kepada orang yang berhak, memperbanyak shalat sunat, sedekah, membaca Al Qur’an dan amal kebaikan lainnya.
4. Jika dicaci maki, supaya mengatakan : ”Saya berpuasa” dan jangan membalas mengejek, memaki, membalas kejahatan orang, tetapi semua itu dibalas dengan kebaikan agar mendapat pahala dan terhindar dari dosa.
5. Berdo’a ketika berbuka sesuai dengan yang diinginkan. Seperti membaca do’a : ”Ya Allah hanya untukmu aku berpuasa, dengan rezki anugerah-Mu aku berbuka, Maha Suci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, terimalah amalku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
6. Berbuka dengan kurma segar, jika tidak punya maka dengan kurma kering, dan jika tidak punya cukup dengan air.

Hukum orang yang tidak berpuasa Ramadhan

Diperbolehkan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan bagi empat golongan, yaitu :
Pertama, Orang sakit yang berbahaya baginya jika berpuasa dan orang bepergian yang boleh baginya mengqashar shalat. Tidak puasa bagi mereka berdua adalah afdhal, tapi wajib mengqadhanya. Namun jika mereka berpuasa maka puasa mereka sah (mendapat pahala). Firman Allah : ”……… maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain ……..” (Al Baqarah : 184).
Maksudnya, jika orang sakit dan orang yang bepergian tidak berpuasa maka wajib mengqadha (menggantinya) sejumlah hari yang ditinggalkan itu pada hari lain setelah bulan Ramadhan.

Kedua, wanita haid dan wanita nifas ; mereka tidak berpuasa dan wajib mengqadha. Jika berpuasa tidak sah puasanya. ’Aisyah ra. berkata : ”Jika kami mengalami haid, maka diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat”. (Muttafaqun ’Alaih)

Ketiga, wanita hamil dan wanita menyusui, jika khawatir atas kesehatan anaknya boleh bagi mereka tidak berpuasa dan harus mengqadha serta memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Jika mereka berpuasa maka sah puasanya. Adapun jika khawatir atas kesehatan diri mereka sendiri, maka mereka boleh tidak puasa dan harus mengqadha saja. Demikian dikatakan Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Lihat kitab Ar Raudhul Murbi’, I/124.

Keempat, orang yang tidak kuat berpuasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh. Boleh baginya tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Demikian kata Ibnu Abbas menurut riwayat Al Bukhari. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, I/215.

Sedang jumlah makanan yang diberikan yaitu satu mud (genggam tangan) gandum, atau satu sha’ (+ 3 kg) dari bahan makanan lainnya. Lihat kitab Limdatul Fiqh, oleh Ibnu Qudamah, hlm 28.

Diharamkan melakukan jima’ (bersenggama) pada siang hari bulan Ramadhan. Dan siapa yang melanggarnya harus mengqadha dan membayar kaffarah mughallazhah (denda berat) yaitu membebaskan hamba sahaya. Jika tidak mendapatkan, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin, dan jika tidak punya maka bebaslah ia dari kaffarah tersebut. Lihat kitab Majalisu Syahri Ramadhan, hlm 102-108.

Hal-hal yang membatalkan puasa

Pertama, Makan dan minum dengan sengaja. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.

Kedua, Jima’ (bersenggma)

Ketiga, Memasukkan makanan kedalam perut. Termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan transfusi darah bagi orang yang berpuasa.

Keempat, Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa sengaja.

Kelima, Keluar darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam
matahari.

Keenam, Sengaja muntah, dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha, sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha”. (Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi)

Ketujuh, Murtad dari Islam semoga Allah melindungi kita darinya. Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. Firman Allah, ”Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al An’am : 88)

Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau dipaksa. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa sengaja.

Jika wanita nifas telah suci sebelum sempurna 40 hari, maka hendaknya ia mandi, shalat dan berpuasa.

Kewajiban orang yang berpuasa untuk menjauhkan diri dari perbuatan dusta, ghibah (menyebutkan kejelekan orang lain), namimah (adu domba), mendo’akan laknat orang lain (agar terjauh dari rahmat Allah) dan mencaci maki. Hendaklah ia menjaga telinga, mata, lidah dan perutnya dari perkataan yang haram, penglihatan yang haram, makan dan minum yang haram.

Qiyam Ramadhan

Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW. bersabda, ”Barangsiapa mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaqun ’Alaih)

Dari Abdurrahman bin ’Auf ra. bahwasanya Nabi SAW. menyebut bulan Ramadhan seraya bersabda, ”Sungguh, Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan Allah puasanya dan kusunnatkan shalat malamnya. Maka barangsiapa menjalankan puasa dan shalat malam pada bulan itu karena iman dan mengharap pahala, niscaya bebas dari dosa-dosa seperti saat ketika dilahirkan ibunya”. (An Nasa’i, katanya : yang benar adalah dari Abu Hurairah). Menurut Al Arna’uth dalam Jaami’ul Ushuul, juz 6 hlm 441, hadits ini hasan dengan adanya nash-nash lain yang memperkuatnya.

Qiyam Ramadhan hukumnya sunnat mu’akkadah, Nabi SAW. sangat menganjurkan dan menekankan, juga dilakukan para shahabat dan tabi’in. Kita seharusnya juga demikan, harus senantiasa mengerjakan shalat Tarawih pada bulan Ramadhan apalagi 10 malam terakhir untuk mendapatkan Lailatul Qadar.

Shalat Tarawih termasuk qiyam Ramadhan

Karena itu, hendaklah bersungguh-sungguh dan memperhatikannya serta mengharapkan pahala balasannya dari Allah. Malam Ramadhan adalah kesempatan yang terbatas bilangannya dan orang mukmin yang berakal akan memanfaatkannya dengan baik tanpa terlewatkan. Jangan pulang dari shalat Tarawih sebelum imam selesai darinya dan dari shalat witir, agar mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Hal ini didasarkan sabda Nabi SAW., ”Barangsiapa mendirikan shalat malam bersama imam sehingga selesai, dicatat baginya shalat semalam suntuk”. (Para penulis kitab Sunan dengan sanad Shahih).

Shalat Tarawih adalah sunat, dilakukan dengan berjama’ah lebih utama. Demikian yang masyhur dilakukan para shahabat. Shalat ini tidak ada batasannya. Boleh melakukannya 20 raka’at, 36 raka’at, 8 raka’at atau 10 raka’at, semuanya baik. Banyak atau sedikitnya raka’at tergantung pada panjang atau pendeknya bacaan ayat. Shalat supaya khusyu’, thuma’ninah, dihayati dan dibaca dengan pelan tidak dengan cepat atau tergesa-gesa.

Membaca Al Qur’an di bulan Ramadhan dan lainnya

Sangat diutamakan bagi seorang muslim yang mengharap rahmat Allah dan takut akan siksa-Nya untuk memperbanyak membaca Al Qur’an pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya. Karena Al Qur’an adalah sebaik-baik kitab yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia dengan syariat yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.

Al Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangan-Nya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah di hadapan Tuhan dan memberi syafaat pada hari Qiamat.

Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Al Qur’an, sebagaimana firman Allah : ”Bulan Ramadhan, yang didalamnya diturunkan permulaan Al Qur’an …….”. (Al Baqarah : 185)
Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Nabi SAW. bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al Qur’an.

Hal itu dianjurkannya mempelajari Al Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membaca Al Qur’an kepada orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan Al Qur’an pada bulan Ramadhan.

Wallahu a’lam *

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: