Loading...

Sabtu, Mei 15, 2021

Risalah Ramadhan (3)

Pada bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk memperbanyak mempelajari dan membaca Al Qur’an, dan lebih utama dibaca secara bergantian ditempat ibadah (masjid) masing-masing, karena Malaikat Jibril AS. setiap bulan Ramadhan membacakan dan menyimak Al Qur’an bersama Rasulullah SAW. secara bergantian.

Nabi SAW. bersabda, ”Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya”. (HR Muslim).

Dalam hadits Ibnu Abbas disebutkan bahwa pembacaan Al Qur’an antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya untuk membaca Al Qur’an di Bulan Ramadhan pada malam hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, sehingga lebih mudah untuk khusyu’. firman Allah : ”Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’), dan bacaan diwaktu itu lebih berkesan”. (QS Al Muzzammil : 6)

Sedekah di Bulan Ramadhan

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas ra., Ia berkata : ”Nabi SAW. adalah orang yang paling dermawan, dan Beliau lebih dermawan pada Bulan Ramadhan, kedermawanan Beliau dalam kebaikan lebih daripada angin yang berhembus. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan tambahan : ”Dan Beliau tidak pernah diminta sesuatu kecuali memberikannya”.

Menurut riwayat Baihaqi, dari ’Aisyah rha., ”Nabi SAW. jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta”.

Kedermawanan adalah sifat murah hati dan banyak memberi. Allah pun bersifat Maha Pemurah, Allah SWT. Maha Pemurah, kedermawanan-Nya berlipat ganda pada waktu-waktu tertentu seperti bulan Ramadhan.

Demikian juga Nabi SAW. adalah manusia yang paling dermawan, paling mulia, paling pemberani dan amat sempurna dalam segala sifat yang terpuji, kedermawanan Beliau pada Bulan Ramadhan berlipat ganda dibanding bulan-bulan lainnya, sebagaimana kemurahan Tuhannya berlipat ganda pada bulan ini.
Barangsiapa yang membantu orang yang berpuasa dan berdzikir supaya senantiasa taat, maka seumpama orang yang membekali saudaranya yang berperang, maka ia memperoleh seperti pahala orang yang berperang, dan siapa yang menanggung dengan baik keluarga orang yang berperang maka ia memperoleh pula seperti pahala orang yang berperang.

Dinyatakan dalam hadits Zaid bin Khalid dari Nabi SAW. Beliau bersabda, ”Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya”. (Ahmad, Tirmidzi)

Bulan Ramadhan adalah saat Allah berderma kepada para Hamba-Nya dengan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api Neraka, terutama pada Lailatul Qadar Allah melimpahkan kasih-Nya kepada para hamba-Nya yang bersifat kasih, maka barangsiapa berderma kepada para hamba Allah niscaya Allah Maha Pemurah kepadanya dengan anugerah dan kebaikan. Balasan itu adalah sejenis dengan amal perbuatan.

Dinyatakan dalam hadits Ali ra., bahwa Nabi SAW. bersabda : ”Sungguh di Surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar”. Maka berdirilah kepada Beliau seorang Arab Badui seraya berkata, ”Untuk siapakah ruangan-ruangan itu Wahai Rasulullah ?”

Jawab Beliau SAW. : ”Untuk siapa saja yang berkata baik, memberi makan, selalu berpuasa dan shalat malam ketika orang-orang dalam keadaan tidur”. (Tirmidzi)

Semua kriteria ini terdapat dalam bulan Ramadhan, puasa, shalat malam, sedekah dan perkataan baik. Karena pada waktu ini orang yang berpuasa dilarang dari perkataan kotor dan perbuatan keji, sedangkan shalat, puasa dan sedekah dapat menghantarkan pelakunya kepada Allah SWT.

Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersama-sama lebih dapat menghapuskan dosa-dosa dan menjauhkan dari api Neraka Jahannam, terutama jika ditambah lagi shalat malam. Nabi SAW. bersabda : ”Puasa itu merupakan perisai bagi seseorang dari api Neraka, sebagaimana perisai dalam peperangan”. (Ahmad, An Nasa’i dan Ibnu Majah dari Utsman bin Abil ’Ash ; juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya serta dinyatakan shahih oleh
Hakim dan disetujui Adz dzahabi).

Diriwaytkan pula oleh Ahmad dari Abu Hurairah ra. Nabi SAW. bersabda : ”Puasa itu perisai dan benteng kokoh yang melindungi seseorang dari api Neraka”.

Dari Mu’adz ra., Nabi SAW. bersabda : ”Sedekah dan shalat ditengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api”. (Tirmidzi)

Dalam puasa tentu terdapat kekeliruan serta kekurangan. Dan puasa dapat menghapuskan dosa-dosa dengan syarat menjaga diri dari apa yang mesti dijaga. Padahal kebanyakan puasa yang dilakukan kebanyakan orang tidak terpenuhi dalam puasanya itu penjagaan yang semestinya. Dan dengan sedekah, kekurangan dan kekeliruan yang terjadi dapat terlengkapi. Karena itu akhir Ramadhan, diwajibkan membayar zakat fithrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan kotor dan perbuatan keji.

Tafsiran ayat-ayat tentang puasa

Firman Allah : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahuinya”. (Al Baqarah : 183 – 184)

Ayat diatas ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat ini, seraya menyuruh mereka agar berpuasa. Yaitu menahan dari makan, minum dan bersenggama serta segala hal yang membatalkan, dengan niat ikhlas karena Allah SWT. karena didalamnya terdapat penyucian dan pembersihan jiwa, juga menjernihkannya dari pikiran-pikiran yang buruk dan akhlak yang rendah.

Allah menyebutkan, disamping mewajibkan atas umat ini, hal yang sama juga telah diwajibkan atas orang-orang terdahulu. Dari sinilah kita mendapat teladan. Maka, hendaknya berusaha menjalankan kewajiban ini secara lebih sempurna dibanding dengan orang-orang terdahulu. (Tafsir Ibnu Katsir, 11313)

Lalu, dijelaskan manfaat puasa yang besar dan hikmahnya yang tinggi. Yaitu agar orang yang berpuasa mempersiapkan diri untuk bertaqwa kepada Allah, dengan meninggalkan nafsu dan kesenangan yang dibolehkan, semata-mata untuk mentaati perintah Allah dan mengharapkan pahala di sisi-Nya. (Tafsir Ayaatul Ahkaam, oleh Ash Shabuni, I/192).

Ketika Allah menyebutkan bahwa Dia mewajibkan puasa atas mereka, maka Dia memberitahukan bahwa puasa tersebut pada hari-hari tertentu atau dalam jumlah yang relatif sedikit dan mudah. Diantara kemudahannya yaitu puasa tersebut pada bulan tertentu, dimana seluruh umat Islam melakukannya.

Lalu Allah memberi kemudahan lain, seperti disebutkan dalam firman-Nya : ”Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.(Al Baqarah : 184).

Karena merasa berat, maka Allah memberikan keringanan kepada orang yang sakit dan dalam perjalanan untuk tidak berpuasa. Dan agar hamba mendapatkan kemaslahatan puasa, maka Allah memerintahkan mereka agar menggantinya pada hari-hari lain. Yakni ketika sembuh dari sakit atau tidak lagi melakukan perjalanan, dan sedang dalam keadaan luang. (Tafsiirul Lat’nifil Mannaan fi Khulaashati Tafsiirul Qur’an, oleh Ibnu Sa’di, hlm 56).

Adapun orang sehat dan mukim (tidak bepergian) tetapi berat (tidak kuat) menjalankan puasa, maka ia boleh memilih antara berpuasa atau memberi makan orang miskin. Ia boleh berpuasa, boleh pula berbuka dengan syarat memberi makan kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Jika ia memberi makan lebih dari seorang miskin untuk setiap harinya, tentu akan lebih baik. Dan bila ia berpuasa, maka puasa lebih utama daripada memberi makanan. Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas ra. berkata : ”Karena itulah Allah berfirman, dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (Tafsir Ibnu Katsir, I/214).

Firman Allah : ”(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (dinegeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (Al Baqarah : 185).

Allah memberitahukan bahwa bulan yang didalamnya diwajibkan puasa bagi mereka itu adalah bulan Ramadhan. Bulan dimana Al Qur’an yang dengannya Allah memuliakan umat Muhammad diturunkan untuk pertama kalinya. Allah menjadikan Al Qur’an sebagai undang-undang serta peraturan yang mereka pegang teguh dalam kehidupan. Didalamnya terdapat cahaya dan petunjuk. Dan itulah jalan kebahagiaan bagi orang-orang yang ingin menitinya. Didalamnya terdapat pembeda antara yang haq dengan yang bathil, antara petunjuk dengan kesesatan dan antara yang halal dengan yang haram.

Allah menekankan puasa pada bulan Ramadhan karena bulan itu adalah bulan diturunkannya rahmat kepada segenap hamba, dan Allah tidak menghendaki kepada segenap hamba-Nya kecuali kemudahan. Karena itu Dia membolehkan orang sakit dan musafir berbuka puasa pada hari-hari bulan Ramadhan, dan memerintahkan mereka menggantinya, sehingga sempurna bilangan satu bulan. Selain itu, Dia juga memerintahkan memperbanyak dzikir dan takbir ketika selesai melaksanakan ibadah puasa, yakni pada saat sempurnanya Bulan Ramadhan. Karena itu Allah berfirman : ”Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur”. (Al Baqarah : 185).

Maksudnya, bila kita telah menunaikan apa yang diperintahkan Allah, taat kepada-Nya dengan menjalankan hal-hal yang diwajibkan dan meninggalkan segala yang diharamkan serta menjaga batasan-batasan (hukum-Nya), maka hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur karenanya”. (Tafsir Ibnu Katsir, I/218).

Firman Allah : ”Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istrimu ; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh aAllah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, tetapi janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa”. (Al Baqarah : 187)

Sebab turunnya ayat : Imam Al Bukhari meriwyatkan dari Al Barra bin ’Azib, bahwasanya ia berkata : ”Dahulu, para shahabat, jika seseorang dari mereka berpuasa, dan telah datang (waktu) berbuka, tetapi ia tidur sebelum berbuka, ia tidak makan pada malam dan siang harinya hingga sore. Suatu ketika Qais bin Sharmah Al Anshari dalam keadaan puasa, sedang pada siang harinya bekerja di kebun kurma. Ketika datang waktu berbuka, ia mendatangi istrinya seraya berkata padanya : ”Apakah engkau memliki makanan?”

Ia menjawab : ”Tidak, tetapi aku akan pergi mencarikan untukmu”.

Padahal siang harinya ia sibuk bekerja, karena itu ia tertidur. Kemudian datanglah istrinya. Tatkala ia melihat suaminya (tertidur) ia berkata : ”Celaka kamu”.

Ketika sampai tengah hari, ia menggauli (istrinya). Maka hal itu diberitahukan kepada Nabi SAW., sehingga turunlah ayat : ”Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istrimu”. Maka mereka sangat bersuka cita karenanya, kemudian turunlah ayat berikut : ”Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. (Lihat kitab Ash Shahiihul Musnad min Asbaabin Nuzul, hlm 9).

Hubungan suami istri dahulunya dilarang pada malam hari Bulan Ramadhan akan tetapi setelah ayat ini turun dibolehkan berhubungan dengan istri asalkan hanya di malam hari saja. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: