Loading...

Sabtu, Mei 15, 2021

Risalah Ramadhan (4)

Puasa yang sempurna

Agar puasa sempurna sesuai dengan tujuan, maka sangat dianjurkan untuk makan sahur, sehingga membantu kekuatan fisik selama berpuasa ; Nabi SAW. bersabda : ”Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah”. (Bukhari, Muslim)

Dalam hadits yang lain : ”Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang”. (Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya).

Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus berhati-hati, untuk itu hendaknya kita telah berhenti makan dan minum beberapa menit sebelum terbit fajar, agar tidak ragu-ragu.

Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Nabi SAW. bersabda : ”Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur”. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi).

Usahakan mandi hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci.

Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan didalamnya, yakni membaca Al Qur’an. Sesungguhnya Jibril pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi SAW. untuk membacakan Al Qur’an kepadanya”. (Bukhari, Muslim dari Ibnu Abbas ra.)

Selama Ramadhan hendaklah menjaga lisan dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Nabi SAW. bersabda : ”Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum”. (Bukhari)

Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang berpuasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan jika kita diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan kita hadapi dia dengan perbuatan serupa. Nasehat dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi SAW. bersabda : ”Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kamu berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata sesungguhnnya aku sedang berpuasa”. (Bukhari, Muslim, para penulis kitab Sunan).

Ucapan itu dimaksudkan agar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpatnya, disamping itu juga mengingatkan agar ia menolak melakukan penghinaan dan caci maki.
Hendaknya setelah puasa membawa
taqwa kepada Allah, takut dan bersyukur kepada-Nya, serta senantiasa istiqomah dalam agama-Nya. Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi kita sepanjang tahun. Dan buah paling utama dari puasa adalah taqwa, sebab Allah berfirman : ”…. agar kamu bertaqwa”. (Al Baqarah : 183)

Menjaga diri dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagi kita. Hal itu agar tujuan puasa tercapai dan mematahkan nafsu dari keinginan. Jabir bin Abdillah ra. berkata : ”Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaran, penglihatan dan lisan dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kita senantiasa bersikap tenang pada hari puasa.

Hendaknya makananmu dari yang halal. Jika kamu menahan diri dari yang haram pada bulan selain bulan Ramadhan maka pada bulan Ramadhan lebih utama. Dan tidak ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi berbuka dengan yang haram.

Memperbanyak sedekah dan berbuat kebajikan. Dan hendaknya kamu lebih baik dan lebih banyak berbuat kebajikan kepada keluarga dibanding pada selain bulan Ramadhan. Nabi SAW. adalah orang yang paling dermawan, dan Beliau lebih dermawan ketika bulan Ramadhan.

Ucapkanlah Bismillah ketika kamu berbuka seraya berdo’a : ”Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan atas rezeki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah dariku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Tujuan puasa

Tujuan puasa adalah untuk menahan nafsu dari berbagai syahwat, sehingga ia siap mencari sesuatu yang menjadi puncak kebahagiaannya ; menerima sesuatu yang menyucikannya, yang didalamnya terdapat kehidupan yang abadi, mematahkan permusuhan nafsu terhadap lapar dan dahaga serta mengingatkannya dengan keadaan orang-orang yang menderita kelaparan diantara orang-orang miskin ; menyempitkan jalan syetan pada diri hamba dengan menyempitkan jalan aliran makanan dan minuman ; puasa adalah untuk Tuhan semesta alam, tidak seperti amalan-amalan yang lain, ia berarti meninggalkan segala yang dicintai karena kecintaannya kepada Allah SWT. ; ia merupakan rahasia antara hamba dengan Tuhannya, sebab para hamba mungkin bisa diketahui bahwa ia meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa secara nyata, tetapi keberadaan dia meninggalkan hal-hal tersebut karena Tuhannya, maka tak seorangpun manusia yang mengetahuinya dan itulah hakikat puasa.

Petunjuk Nabi dalam berpuasa

Petunjuk puasa dari Nabi SAW. adalah petunjuk yang paling sempurna untuk mencapai maksud, serta paling mudah penerapannya bagi segenap jiwa.

Diantara petunjuk puasa dari Nabi SAW. pada bulan Ramadhan adalah : memperbanyak melakukan berbagai macam ibadah. Jibril senantasa membacakan Al Qur’an untuk Beliau pada bulan Ramadhan ; Beliau juga memperbanyak sedekah, kebajikan, shalat, dzikir, i’tikaf dan bahkan Beliau mengkhususkan beberapa macam ibadah pada bulan Ramadhan, hal yang tidak Beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain.

Nabi SAW. menyegerakan berbuka dan menganjurkan demikian, Beliau makan sahur dan mengakhirkannya, serta menganjurkan dan memberi semangat orang lain untuk melakukan hal yang sama. Beliau menghimbau agar berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya maka dengan air.

Nabi SAW. melarang orang yang berpuasa dari ucapan keji dan caci maki. Sebaliknya Beliau memerintahkan agar ia mengatakan kepada yang mencacinya, ”Sesungguhnya aku sedang puasa”.

Jika Beliau melakukan perjalanan di bulan Ramadhan, terkadang Beliau meneruskan puasanya dan terkadang pula berbuka. Dan membiarkan para shahabatnya memilih antara berbuka atau puasa ketika dalam perjalanan.

Beliau SAW. pernah mendapatkan fajar dalam keadaan junub sehabis menggauli istrinya maka Beliau segera mandi setelah terbit fajar dan tetap berpuasa.

Termasuk petunjuk Nabi SAW. adalah membebaskan qadha’ puasa bagi orang yang makan dan minum karena lupa, dan bahwasanya Allahlah yang memberinya makan dan minum.

Dan dalam riwayat yang shahih disebutkan Beliau bersiwak dalam keadaan puasa. Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya Nabi SAW. menuangkan air diatas kepalanya dalam keadaan berpuasa. Beliau juga melakukan istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) serta berkumur dalam keadaan puasa. Tetapi Beliau melarang orang yang berpuasa melakukan istinsyaq secara berlebihan. (Lihat kitab Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ’Ibad, I/320-338)

Puasa yang disyariatkan

Puasa yang disyariatkan adalah puasanya anggota badan dari dosa-dosa, dan puasanya perut dari makan dan minum. Sebagaimana makan dan minum membatalkan dan merusak puasa, demikian pula halnya dengan dosa-dosa, ia memangkas pahala puasa dan merusak buahnya, sehingga memposisikannya pada kedudukan orang yang tidak berpuasa.
Karena itu, orang yang benar-benar berpuasa adalah orang yang puasa segenap anggota badannya dari melakukan dosa-dosa, lisannya berpuasa dari dusta, kekejian dan mengada-ada, perutnya berpuasa dari makan dan minum, kemaluannya berpuasa dari senggama.
Bila berbicara, ia tidak berbicara dengan sesuatu yang menodai puasanya, bila melakukan suatu pekerjaan ia tidak melakukan sesuatu yang merusak puasanya. Ucapan yang keluar darinya selalu bermanfaat dan baik, demikian pula dengan amal perbuatannya.

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan : ”Dan sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah dari pada aroma minyak kesturi”. (Tirmidzi)

Inilah puasa yang disyariatkan, tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum. dalam hadits shahih dikatakan : ”Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum”. (Bukhari, Ahmad). Dalam hadits lain dikatakan : ”Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga”. (Ahmad).

Berpisah dengan Ramadhan

Disebutkan dalam shahihain sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., bahwa Nabi SAW. bersabda : ”Barangsiapa puasa bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
”Barangsiapa mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadar, karena iman dan mengharap pahala dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (An Nasa’i)

Ibnu Hibban dan Baihaqi meriwayatkan dari Abu Sa’id bahwa Nabi SAW. bersabda : ”Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan mengetahui batas/ketentuannya serta memelihara hal-hal yang harus dijaga, maka dihapus dosanya yang telah lalu”.

Ampunan dosa tergantung pada terjaganya sesuatu yang harus dijaga seperti melaksanakan kewajiban dan meninggalkan segala yang haram. Para ulama berpendapat bahwa ampunan dosa tersebut hanya berlaku pada dosa-dosa kecil, berdasarkan hadits riwayat Muslim, bahwasanya Nabi SAW. bersabda : ”Shalat lima waktu, Jum’at sampai Jum’at berikutnya dan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa yang terjadi diantara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar ditinggalkan”.

Hadits ini memiliki dua konotasi, pertama : bahwa penghapusan dosa itu terjadi dengan syarat menghindari dan menjauhi dosa-dosa besar. Kedua : hal itu dimaksudkan bahwa kewajiban-kewajiban tersebut hanya menghapus dosa-dosa kecil. Sedangkan jumhur ulama berpendapat, bahwa hal itu harus disertai dengan taubat nashuha (taubat yang semurni-murninya).

Hadits Abu Hurairah diatas menunjukkan bahwa tiga faktor ini yakni puasa, shalat malam dibulan Ramadhan dan shalat pada malam Lailatul Qadar, masing-masing dapat menghapus dosa yang telah lampau, dengan syarat meninggalkan segala bentuk dosa besar.

Para shahabat sangat bersungguh-sungguh dalam menghidupkan amal agama, memperhatikan dan mementingkan amal tersebut dan sangat khawatir jika ditolak. Mereka itulah orang-orang yang diganjar sesuai dengan perbuatan mereka sedangkan hatinya selalu gemetar (karena takut siksa Tuhannya).

Apabila puasa dibulan Ramadhan, melaksanakan shalat di malam harinya dan pada malam Lailatul Qadar, bersedekah, membaca Al Qur’an, banyak berdzikir dan berdo’a serta mohon ampunan dalam bulan mulia ini merupakan sebab diberikannya ampunan. Maka sudah selayaknya sebagai seorang muslim melakukan berbagai faktor tersebut yang akan membuatnya mendapat ampunan dari Allah SWT. ”Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih kemudian tetap dijalan yang benar’. (Thaaha : 82)

Jika keberadaan ampunan dan pembebasan dari api Neraka itu tergantung kepada puasa Ramadhan dan pelaksanaan shalat di dalamnya, maka di kala hari Raya tiba, Allah memerintahkan hamba-Nya agar bertakbir dan bersyukur atas segala nikmatnya yang telah dianugerahkan. Maka sudah selayaknya untuk memperbanyak dzikir, takbir dan bersyukur kepada Tuhan serta selalu bertaqwa kepada-Nya dengan sebenar-benar ketaqwaan. Allah SWT. berfirman : ”Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mangagungkan Allah atas pertunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur”. (Al Baqarah : 185).

Peringatan

Sebagian orang apabila datang bulan Ramadhan, mereka bertaubat, mendirikan shalat dan melaksanakan ibadah puasa. Namun jika Ramadhan lewat mereka kembali meninggalkan shalat dan melakukan perbuatan maksiat. Mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan saja. Tidakkah mereka tahu bahwa pemilik bulan-bulan itu adalah satu (Allah) berbagai bentuk kemaksiatan adalah haram disetiap waktu dan Allah Maha Mengetahui setiap gerak gerik kita dimana saja dan kapan saja. Maka sebaiknya segera bertaubat, yakni dengan meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan, menyesalinya dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, sehingga taubat diterima Allah.

Firman Allah : ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai”. (At Tahrim : 8)
Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: