Loading...

Sabtu, Mei 15, 2021

Risalah Ramadhan (5)

Pada bulan Ramadhan tidak sedikit orang yang membuat berbagai variasi pada menu makanan dan minuman mereka. Walaupun hal itu diperbolehkan, tetapi tidak dibenarkan israf (berlebih-lebihan) dan melampaui batas. Justru seharusnya adalah menyederhanakan makanan dan minuman. Allah berfirman : ”Makan dan minumlah dan janganlah kalian berbuat israf (berlebih-lebihan), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf”. (QS Al A’raaf : 31)

Ayat ini termasuk pangkal ilmu kedokteran. Menurut ulama, Allah mengklasifikasikan seluruh ilmu kedokteran hanya dalam setengah ayat, lantas membaca ayat ini.

Ayat ini menganjurkan makan dan minum yang merupakan penopang utama bagi kelangsungan hidup seseorang, kemudian melarang berlebih-lebihan dalam hal tersebut karena dapat membahayakan tubuh. Nabi SAW. bersabda : ”Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa disertai dengan berlebih-lebihan dan kesombongan”. (Abu Dawud, Ahmad, Bukhari)

Nabi SAW. bersabda lagi : ”Tiada tempat yang lebih buruk yang dipenuhi anak Adam daripada perutnya, cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat menopang tulang punggungnya jika hal itu tidak bisa dihindari maka masing-masing sepertiga bagian untuk makanannya, minumnya dan nafasnya”. (Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah dan Timidzi, beliau berkomentar hadits ini Hasan, dan hadits ini merupakan dasar utama bagi semua dasar ilmu kedokteran). (Lihat Al Majmu’atul Jalilah, hlm 452).

Dampak yang paling ringan akibat berlebih-lebihan dalam makan dan minum adalah banyak tidur dan malas mengerjakan shalat Tarawih serta membaca Al Qur’an, baik di waktu malam atau di siang hari. Barangsiapa yang banyak makan dan minum, maka akan banyak tidurnya sehingga tidak sedikt kerugian yang menimpanya. Karena ia telah menyia-nyiakan detik-detik Ramadhan yang mulia dan sangat berharga yang tidak dapat digantikan dengan waktu lain serta tidak ada yang menyamainya.

Jika diperhatikan, banyak manusia yang menghabiskan siang hari di bulan Ramadhan hanya untuk tidur mendengkur, sementara malamnya mereka habiskan untuk mengobrol dan bermain-main, sehingga mereka tidak merasakan puasa sedikitpun bahkan tidak sedikit yang meninggalkan shalat berjamaah semoga Allah menunjukinya.

Ramadhan merupakan bilangan hari, yang berlalu dengan cepat dan menjadi saksi ketaatan bagi orang-orang yang taat, sekaligus sebagai saksi bagi para tukang maksiat atas semua perbuatan maksiatnya. Setiap muslim seharusnya selau memanfaatkan waktunya dalam hal-hal yang berguna, janganlah memperbanyak makan dimalam hari dan tidur disiang hari, jangan pula menyia-nyiakan sedikt pun waktunya tanpa berbuat amal shalih atau mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sebagian orang malah begadang sepanjang malam, yang hal tersebut hanya membawa dampak negatif, baik berupa obrolan kosong, permainan yang tidak ada manfaatnya ataupun keluyuran di jalanan.

Ada yang makan sahur di pertengahan malam dan tertidur sehingga tidak melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Nabi SAW. sangat membenci tidur sebelum shalat Isya’ dan berbicara sesudahnya kecuali dalam hal-hal yang baik.

Tersia-siakannya waktu yang amat mahal di bulan Ramadhan dengan percuma, padahal manusia akan merugi sekali dari setiap waktunya yang berlalu tanpa diisi dengan dzikir sedikitpun kepada Allah.

Mendahulukan sahur sebelum saat yang dianjurkan dan di sunnahkan yakni di akhir malam sebelum fajar. Dan musibah besar adalah tertidur hingga meninggalkan shalat Shubuh tepat waktunya dan berjamaah, padahal pahalanya sebanding dengan melaksanakan shalat sepanjang malam. Nabi SAW. bersabda : ”Barangsiapa mendirikan shalat Isya’ dengan berjamaah, maka ia bagaikan melaksanakan shalat separuh malam ; dan barangisiapa shalat Shubuh berjamaah maka bagaikan shalat semalam suntuk”. (Muslim)

Maka sudah selayaknya terutama di bulan Ramadhan setiap muslim segera tidur setelah melaksanakan shalat Tarawih dan membaca Al Qur’an, dan bangun di akhir malam kemudian shalat malam dan menyibukkan diri dengan dzikir, do’a, istighfar dan taubat sebelum dan seusai sahur hingga shalat fajar.

Tetapi lebih utama lagi jika ia habiskan malam harinya dengan membaca dan mempelajari Al Qur’an, sebgaimana yang telah dilakukan Nabi SAW. bersama Jibril AS.

Allah SWT. memuji dan menyanjung orang-orang yang memohon ampunan di akhir malam, sebagaimana dalam firman-Nya : ”Mereka sedikit sekali tidur di malam hari, dan di akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah”. (Adz Dzaariaat : 17 – 18)

Maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim yang selalu berharap rahmat Tuhannya dan takut terhadap siksa-Nya memanfaatkan kesempatan penting ini dengan berdo’a dan mohon ampun kepada Allah untuk dirinya, kedua orang tuanya, anak-anaknya, segenap kaum muslimin dan para penguasanya. Memohon ampun dan bertaubat kepada Allah di setiap malam bulan Ramadhan dan disetiap saat dari umurnya yang terbatas sebelum maut menjemput, amal perbuatan terputus dan penyesalan berkepanjangan. Allah SWT. berfirman : ”Dan bertaubatlah kalian semua orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung”. (An Nur : 31).

Fatwa-fatwa penting

Seorang shahabat bertanya kepada Nabi SAW. : ”Wahai Rasulullah, saya lupa sehingga makan dan minum, padahal saya sedang berpuasa”. Beliau SAW. menjawab : ”Allah telah memberimu makan dan minum”. (Abu Dawud). Dan dalam riwayat Daruquthni dengan sanad shahih disebutkan, ”Sempurnakan puasamu dan kamu tidak wajib mengqadhanya, sesungguhnya Allah telah memberimu makan dan minum”, peristiwa itu terjadi pada hari pertama di bulan Ramadhan.

Pernah juga Beliau ditanya tentang benang putih dan hitam, jawab Beliau : ”Yaitu terangnya siang dan gelapnya malam”. (An Nasa’i)

Seorang shahabat bertanya : ”Saya mendapati shalat shubuh dalam keadaan junub, sedang saya berpuasa bagaimana hukumnya?”

Jawab Beliau SAW. : ”Aku juga pernah mendapati shalat Shubuh dalam keadaan junub, lantas aku berpuasa”.

Ia berkata : ”Engkau tidak seperti kami wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni semua dosamu”.

Nabi SAW. menjawab : ”Demi Allah, sungguh aku berharap agar aku menjadi orang yang paling takut kepada Allah dan paling tahu akan sesuatu yang dapat menuju kepada taqwa”. (Muslim).

Beliau SAW. pernah ditanya tentang puasa dalam perjalanan, maka dijawabnya : ”Terserah kamu, boleh berpuasa boleh pula berbuka”. (Muslim).

Hamzah bin ’Amr pernah bertanya : ”Wahai Rasulullah, saya mampu berpuasa dalam perjalanan, apakah saya berdosa?”

Beliau SAW. menjawab : ”Ia adalah rukhshah (keringanan) dari Allah, barangsiapa mengambilnya baik baginya dan barangsiapa lebih suka berpuasa maka ia tidak berdosa”. (Muslim).

Sewaktu ditanya tentang mengqadha puasa dengan tidak berturut-turut, Beliau menjawab : ”Hal itu kembali kepada dirimu (tergantung kemampuanmu), bagaimana pendapatmu jika salah seorang dari kamu mempunyai tanggungan hutang lalu mencicilnya dengan satu dirham, dua dirham, tidakkah itu merupakan bentuk pelunasan? Allah Maha Pemaaf dan Pengampun”. (Daruquthni, isnadnya hasan).

Ketika ditanya oleh seorang wanita : ”Wahai Rasulullah, ibu saya telah meninggal sedangkan ia berhutang puasa nadzar, bolehkah saya berpuasa untuknya?

Beliau SAW. menjawab : ”Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki tanggungan hutang lantas kamu lunasi, bukankah itu membuat lunas hutangnya?”

Ia berkata : ”Benar”.

Nabi SAW. bersabda : ”Puasalah untuk ibumu”. (Muttafaqun ’Alaih. Lihat I’laamul Muwaqqii’in ’An Rabbil ’Aalamiin, oleh Ibnul Qayyim, IV/266-267).

Menurut Ibnu Taimiyah hukum berkumur-kumur dan memasukkan air ke rongga hidung (istinsyaq), bersiwak, mencicipi makanan, muntah, keluar darah, meminyaki rambut dan memakai celak bagi orang yang sedang berpuasa tidaklah membatalkan. Mengenai hal ini Beliau menjawab : ”Adapun berkumur dan memasukkan air ke rongga hidung adalah disyari’atkan, hal ini sesuai dengan kesepakatan para ulama. Nabi SAW. dan para shahabatnya juga melakukan hal itu, tetapi Nabi SAW. bersabda kepada Al Laqiit bin Shabirah : ”Berlebih-lebihanlah kamu dalam menghirup air ke hidung kecuali jika kamu sedang berpuasa”. (Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Nabi SAW. tidak melarang istinsyaq bagi orang yang berpuasa, tetapi hanya melarang berlebih-lebihan dalam pelaksanaannya saja.

Sedangkan bersiwak adalah boleh, tetapi setelah zawal (matahari condong ke barat) kadar makruhnya diperselisihkan, ada dua pendapat dalam masalah ini dan keduanya diriwayatkan dari Imam Ahmad, namun belum ada dalil syar’i yang menunjukkan makruhnya, yang dapat menggugurkan keumuman dalil bolehnya bersiwak.

Mencicipi makanan hukumnya makruh jika tanpa keperluan yang memaksa, tapi tidak membatalkan puasa. Adapun jika memang sangat perlu, maka hal itu bagaikan berkumur, dan hukumnya boleh.

Adapun mengenai hukum muntah-muntah, jika memang disengaja maka hukumnya batal puasanya, tetapi jika datang dengan sendirinya tidak membatalkan. Sedangkan meminyaki rambut jelas tidak membatalkan.

Mengenai hukum keluar darah yang tidak dapat dihindari seperti darah istihadhah, luka-luka, mimisan (keluar darah dari hidung) dan lain sebagainya adalah tidak membatalkan puasa, tetapi keluarnya darah haid dan nifas membatalkan puasa sesuai dengan kesepakatan ulama.

Mengenakan celak (sipat mata) yang tembus sampai ke otak, maka Imam Ahmad dan Imam Malik berpendapat hal itu membatalkan puasa, tetapi Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat hal itu tidak membatalkan. (Lihat Majmu’ Fataawaa, oleh Ibnu Taimiyah, 25/266-267).

Ibnu Taimiyah menambahkan dalam Al Ikhtiyaaraat : ”Puasa seseorang tidak batal sebab mengenakan celak, injeksi (suntik), zat cair yang diteteskan di saluran air kencing, mengobati luka-luka yang tembus sampai ke otak dan luka tikaman yang tembus ke dalam rongga tubuh. Ini adalah sebagian pendapat ulama. (Lihat Al Ikhtiyaaraatul Fiqhiyah, hlm. 108).

Dari ’Aisyah rha., bahwasanya Rasululah SAW. bersabda : ”Barangsiapa meninggal dunia sedangkan ia punya tanggungan puasa, maka walinya boleh berpuasa menggantikanya”. (Muttafaqun’Alaih).

Hadits ini menunjukkan anjuran berpuasa kepada orang yang masih hidup untuk si mayit, dan bahwasa jika seseorang meninggal dalam keadaan memiliki hutang puasa, maka boleh digantikan oleh walinya.

Imam Nawawi berkomentar : ”Para ulama berbeda pendapat tentang mayit yang memiliki tanggungan puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha dan nadzar atau lainnya. Apakah wajib diqadha untuknya?

Dalam masalah ini Imam Syafi’i memiliki dua pendapat, yang terpopuler adalah, tidak wajib diganti puasanya, sebab puasa pengganti untuk si mayit pada asalnya tidak sah. Adapun pendapat kedua, disunnahkan bagi walinya untuk berpuasa sebagai pengganti bagi si mayit, hingga si mayit terbebas dari tanggungannya dan tidak usah membayar kaffarah (memberi makan orang miskin sesuai dengan bilangan puasa yang ditinggalkannya) (Lihat al Majmu’atul Jalilah, hlm. 158).

Syaikh Abdullah bin Syaikh Muhammad ditanya mengenai mulai kapan seorang anak yang menginjak dewasa diperintah melakukan ibadah puasa?

Beliau menjawab : ”Anak yang belum dewasa jika ia mampu berpuasa maka pantas diperintah melaksanakannya, dan bila meninggalkannya diberi hukuman”.

Syaikh Hamd bin Atiq ditanya tentang wanita yang mendapati darah haid sebelum terbenam matahari, apakah puasanya dinyatakan sah?
Beliau menjawab : ”Puasanya tidak sempurna pada hari itu”.

Syaikh Abdullah bin Syaikh Muhammad ditanya mengenai orang yang makan (berbuka) di bulan Ramadhan, bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab : ”Orang yang makan di siang hari bulan Ramadhan atau minum harus diberi pelajaran (dengan hukuman) supaya jera”.
Syaikh Abdullah Ababathin ditanya tentang orang yang berpuasa mendapatkan aroma sesuatu, bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab : ”Semua aroma yang tercium oleh orang yang sedang puasa tidak membatalkan puasanya kecuali bau rokok, jika ia menciumnya dengan sengaja batallah puasanya”.

Tetapi jika asap rokok masuk ke rongga hidungnya tanpa disengaja tidak membatalkan, sebab amat sulit untuk menghindarinya dari orang yang merokok di dekat kita, tetapi sebaiknya menjauh dari perokok tersebut.

Sebagai muslim, kedatangan dan kehadiran bulan Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan suatu yang amat membahagiakan kita. Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah fil Islam mengungkapkan 5 rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan, yaitu : menguatkan jiwa, mendidik kemauan, menyehatkan badan, mengenal nilai kenikmatan, mengingat dan merasakan penderitaan orang lain. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: