Loading...

Sabtu, Mei 15, 2021

Risalah Ramadhan (6)

Rahasia Puasa

Sebagai muslim, kedatangan dan kehadiran bulan Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan suatu yang amat membahagiakan kita. Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah fil Islam mengungkapkan 5 rahasia puasa, antara lain :

Pertama, menguatkan jiwa. Dalam hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya. Lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu dan merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi (mengendalikan) hawa nafsu. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari Allah SWT. sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Firman Allah : ”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhanya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya”. (QS. 45 : 23).

Dengan ibadah puasa, manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, sehingga memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah SWT., sabda Nabi SAW. ada tiga golongan yang tidak ditolak do’a mereka yaitu : orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizhalimi. (Tirmidzi).

Kedua, Mendidik kemauan. Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar.

Karena itu Rasulullah SAW. menyatakan : puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

Ketiga, menyehatkan badan. Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan Rasulullah SAW., tetapi juga dibuktikan oleh para dokter atau ahli kesehatan. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

Keempat, mengenal nilai kenikmatan. Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada mnusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya.

Maka dengan puasa, kita disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperoleh. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah mesikipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil.

Rasa syukur memang membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS 14 :7)

Kelima, mengingat dan merasakan penderitaan orang lain. Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman : ”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui”. (QS 9 : 103).

Zakat Fithrah

Dalil yang menganjurkan menunaikan zakat fithrah adalah : ”Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan ia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”. (Al A’la : 14 – 15).

Dari Ibnu Abbas ra. berkata : ”Nabi SAW. telah mewajibkan zakat fithrah bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar (zakat fithrah tersebut) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat ’Id (hari Raya)”. (Muttafaqun ’Alaih).

Setiap muslim wajib membayar zakat fithrah untuk dirinya dan orang yang dalam tanggungannya sebanyak satu sha’ (+ 3 kg) dari bahan makanan yang berlaku umum di daerahnya. Zakat tersebut wajib baginya jika memiliki sisa makanan untuk diri dan keluarganya selama sehari semalam. Zakat tersebut lebih diutamakan dari sesuatu yang lebih bermanfaat bagi fakir miskin.

Adapun waktu pengeluarannya yang paling utama adalah sebelum shalat ’Id, boleh juga sehari atau dua hari sebelumnya, dan tidak boleh mengakhirkan mengeluarkan zakat fithrah setelah hari Raya. Dari Ibnu Abbas ra. : ”Nabi SAW. telah mewajibkan zakat fithrah sebagai penyuci orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan ucapan kotor, dan sebagai pemberian makan kepada fakir misikin.

”Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat ’Id, maka zakatnya diterima, dan barangsiapa yang membayarkannya setelah shalat ’Id maka ia adalah sedekah biasa”. (Abu Dawud, Ibnu Majah)(dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim, beliau berkata : shahih menurut kriteria Imam Al-Bukhari).

Zakat fithrah tidak boleh diganti dengan nilai nominalnya. Berdasarkan hadits Abu Said Al Khudri ra. yang menyatakan bahwa zakat fitrah adalah lima jenis makanan pokok. (Muttafaqun ’Alaih). Dan pendapat ini adalah makanan pokok masing-masing negeri. Pendapat yang melarang mengeluarkan zakat fithrah dengan uang ini dikuatkan bahwa pada zaman Rasulullah SAW. juga terdapat nilai tukar mata uang, dan seandainya dibolehkan tentu Beliau memerintahkan mengeluarkan zakat dengan nilai makanan tersebut, tetapi Beliau tidak melakukannya.

Adapun yang membolehkan zakat fithrah dengan nilai tukar (uang) adalah madzhab Hanafi. Yang menganjurkan sesuai ajaran Nabi SAW. yang mempermudah dan bertujuan membantu atau memberikan yang bermanfaat kepada fakir miskin.

Zakat fithrah tidak boleh diberikan kecuali
hanya kepada fakir miskin atau wakilnya. Zakat ini wajib dibayarkan ketika terbenamnya matahari pada malam ’Id. Barangsiapa meninggal atau mendapat kesulitan (tidak memiliki sisa makanan bagi diri dan keluarganya) sebelum terbenam matahari, maka ia tidak wajib membayar zakat fithrah. Tetapi jika mengalaminya seusai terbenam matahari, maka ia wajib membayarkannya (sebab ia belum terlepas dari tanggungan membayar zakat fithrah).

Hikmah Zakat Fithrah

Diantara hikmah disyari’atkannya zakat fithrah adalah : zakat fithrah merupakan zakat diri, dimana Allah memberikan umur panjang baginya sehingga ia bertahan dengan
nikmat-Nya.

Zakat fithrah juga merupakan bentuk pertolongan kepada umat Islam, baik kaya maupun miskin sehingga mereka dapat berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah SWT. dan bersuka cita dengan segala anugerah nikmat-Nya.

Hikmahnya yang paling agung adalah tanda syukur orang yang berpuasa kepada Allah atas nikmat ibadah puasa. (Lihat Al Irsyaad Ila Ma’rifatil Ahkaam, oleh Syaikh Abd. Rahman bin Nashir As Sa’di, hlm. 37).

Diantara hikmahnya adalah sebagaimana yang terkandung dalam hadits Ibnu Abbas ra. diatas, yaitu zakat merupakan pembersih bagi yang melakukannya dari kesia-siaan dan perkataan buruk, demikian pula sebagai salah satu sarana pemberian makan kepada fakir miskin.

Hari Raya

Hari Raya adalah saat berbahagia dan bersuka cita. Kebahagiaan dan kegembiraan kaum mukminin di dunia adalah karena Tuhannya, yaitu apabila mereka berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala dengan kepercayaan terhadap janji-Nya kepada mereka untuk mendapatkan anugerah dan ampunan-Nya. Allah berfirman : ”Katakanlah : Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus : 58).

Ketika Nabi SAW. tiba di Madinah, kaum Anshar memiliki dua hari istimewa, mereka bermain-main di dalamnya, maka Nabi SAW. bersabda : ”Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik, yaitu ’Idhul Fitri dan ’Idhul Adha”. (Abu Dawud, An-Nasa’i dengan sanad Hasan).

Hadits ini menunjukkan bahwa menampakkan rasa suka cita di hari Raya adalah sunnah dan disyari’atkan. Maka diperkenankan memperluas hari Raya tersebut secara menyeluruh kepada segenap kerabat dengan berbagai hal yang tidak diharamkan yang bisa mendatangkan kesegaran badan dan melegakan jiwa, tetapi tidak menjadikannya lupa untuk taat kepada Allah.

Adapun yang dilakukan kebanyakan orang di saat hari Raya dengan berduyun-duyun pergi memenuhi berbagai tempat hiburan dan permainan adalah tidak dibenarkan, karena hal itu tidak sesuai dengan yang disyari’atkan bagi mereka seperti melakukan dzikir kepada Allah. Hari Raya tidak identik dengan hiburan, permainan dan penghambur-hamburan (harta), tetapi hari Raya adalah untuk berdzikir kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Hari Raya merupakan hari pembagian hadiah, orang-orang yang berpuasa diberi ganjaran puasanya, dan setelah hari Raya tersebut mereka mendapatkan ampunan. (Lihat Lathaa’iful Ma’arif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 255-258).

Petunjuk Nabi di hari Raya

Pada saat hari Raya ’Idhul Fitri, Nabi SAW. mengenakan pakaian terbaiknya dan makan kurma dengan bilangan ganjil, tiga, lima atau tujuh sebelum pergi melaksanakan shalat ’Id.
Beliau mengakhirkan shalat ’Idhul Fitri agar kaum muslimin memiliki kesempatan untuk membagikan zakat Fithrahnya.

Ibnu Umar sungguh-sungguh dalam mengikuti sunnah Nabi SAW. tidak keluar untuk shalat ’Id kecuali setelah terbit Matahari, dan dari rumah sampai ke tempat shalat Beliau senantiasa bertakbir.

Nabi SAW. melaksanakan shalat ’Id terlebih dahulu baru berkhutbah, dan Beliau shalat dua rakaat. Pada rakaat pertama Beliau bertakbir 7 kali berturut-turut dengan takbiratul Ihram, dan berhenti sebentar diantara tiap takbir. Beliau tidak mengajarkan dzikir tertentu yang dibaca saat itu. Hanya saja riwayat Ibnu Mas’ud mengatakan Beliau membaca hamdalah dan memuji Allah serta membaca shalawat.

Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar mengangkat kedua tangannya pada setiap bertakbir. Sedangkan Nabi SAW. setelah bertakbir membaca Al Fatihah dan Qaaf pada rakaat pertama serta surat Al Qomar dirakaat kedua.

Kadang-kadang Beliau membaca surat Al A’la pada rakaat pertama dan Al Ghasyiyah pada rakaat kedua. Kemudian Beliau bertakbir lalu ruku’ lanjutkan takbir 5 kali pada rakaat kedua lalu membaca Al Fatihah dan surat lain. Setelah selesai Beliau menghadap ke arah jamaah, sedang mereka tetap duduk di shaf masing-masing, lalu Beliau menyampaikan khutbah yang berisi wejangan, anjuran dan larangan.

Beliau selalu melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang shalat ’Id, dan selalu mandi sebelumnya.

Nabi SAW. senantiasa memulai setiap khutbahnya dengan hamdalah dan bersabda : ”Setiap perkara yang tidak dimulai dengan hamdalah, maka ia terputus (dari berkah)”. (Ahmad dan lainnya).

Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata : ”Bahwasanya Nabi SAW. menunaikan shalat ’Id dua rakaat tanpa disertai shalat yang lainnya baik sebelum maupun sesudahnya”. (Bukhari, Muslim dan yang lain).

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat ’Id itu hanya dua rakaat, demikian pula mengisyaratkan tidak ada shalat sunnah yang lain, apalagi qobliyah dan ba’diyah. Kalaupun ada shalat tahiyyatul masjid atau dhuha itu perkara lain. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: